Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2015

#2: Untuk Diam

Untuk diam yang tak pernah menjadi paragraf. Kau menyejajari langkahku sepanjang senja itu. Di garis-garis tipis horizon yang memerah ufuknya, aku bersitatap denganmu yang kelihatan tegang. Garis-garis urat di leher, dahimu, menandakan kau menyimpan berjuta huruf, tanda baca, yang siap meledak sewaktu-waktu aku membuka mulut. Kau makin menyejajari langkahku cepat-cepat, seolah aku akan tertinggal jauh di belakangmu. Seolah langkahmu yang lebar akan menjegal bekas tapak yang kuinjak dalam-dalam. Sesekali kau menatap cakrawala, langit merah berkelebat dengan camar-camar yang memutar arah pulang. Lalu beberapa detik lagi, kau menoleh padaku, menatapku cukup lama hingga kau menatap lagi langit yang berubah-ubah kelam. Begitu seterusnya, hingga aku berhenti untuk mengikuti langkahmu yang makin pelan. Entah, pemutar musik mana lagi yang menggaungkan Tame Impala – Feels Like We Only Go Backwards, lagu yang kau sebut lagu kenegaraan milik kita. Sejurus kemudian, pemutar musik bi...