Untuk diam yang tak pernah menjadi paragraf.
Kau menyejajari langkahku sepanjang senja itu. Di garis-garis tipis horizon yang memerah ufuknya, aku bersitatap denganmu yang kelihatan tegang. Garis-garis urat di leher, dahimu, menandakan kau menyimpan berjuta huruf, tanda baca, yang siap meledak sewaktu-waktu aku membuka mulut. Kau makin menyejajari langkahku cepat-cepat, seolah aku akan tertinggal jauh di belakangmu. Seolah langkahmu yang lebar akan menjegal bekas tapak yang kuinjak dalam-dalam.
Sesekali kau menatap cakrawala, langit merah berkelebat dengan camar-camar yang memutar arah pulang. Lalu beberapa detik lagi, kau menoleh padaku, menatapku cukup lama hingga kau menatap lagi langit yang berubah-ubah kelam. Begitu seterusnya, hingga aku berhenti untuk mengikuti langkahmu yang makin pelan.
Entah, pemutar musik mana lagi yang menggaungkan Tame Impala – Feels Like We Only Go Backwards, lagu yang kau sebut lagu kenegaraan milik kita. Sejurus kemudian, pemutar musik biadab itu memutar Coldplay – Shiver. Sialan, kenapa terus bergaung di waktu yang tak tepat? Sementara kau diam. Diam, melihatku dengan urat-uratmu yang menegang.
Perasaanku tak enak kala langit makin muram. Hei Sayangku, bisakah kita selesaikan ini semua cepat-cepat? Kau tahu aku tak bisa baca pikiran.. Kau tahu, aku bukan ‘psikolog’ seperti kata orang-orang yang awam, yang kata mereka mengecewakan karena aku tak bisa meramal. Sayang sekali, kau berkeras untuk bertahan dengan diam-mu, hanya menunjukkan dengan matamu yang makin menyipit, urat di lehermu yang menegang sedari tadi. Ah, tanda apa lagi yang bisa aku pastikan kalau kau benar-benar murka?
Sayangnya, aku tak akan pernah bisa membaca pikiran.
Aku memutuskan berbalik arah, dengan rindu yang terlalu perih.
Comments
Post a Comment