Skip to main content

#2: Untuk Diam


Untuk diam yang tak pernah menjadi paragraf.

Kau menyejajari langkahku sepanjang senja itu. Di garis-garis tipis horizon yang memerah ufuknya, aku bersitatap denganmu yang kelihatan tegang. Garis-garis urat di leher, dahimu, menandakan kau menyimpan berjuta huruf, tanda baca, yang siap meledak sewaktu-waktu aku membuka mulut. Kau makin menyejajari langkahku cepat-cepat, seolah aku akan tertinggal jauh di belakangmu. Seolah langkahmu yang lebar akan menjegal bekas tapak yang kuinjak dalam-dalam.

Sesekali kau menatap cakrawala, langit merah berkelebat dengan camar-camar yang memutar arah pulang. Lalu beberapa detik lagi, kau menoleh padaku, menatapku cukup lama hingga kau menatap lagi langit yang berubah-ubah kelam. Begitu seterusnya, hingga aku berhenti untuk mengikuti langkahmu yang makin pelan.

Entah, pemutar musik mana lagi yang menggaungkan Tame Impala – Feels Like We Only Go Backwards, lagu yang kau sebut lagu kenegaraan milik kita. Sejurus kemudian, pemutar musik biadab itu memutar Coldplay – Shiver. Sialan, kenapa terus bergaung di waktu yang tak tepat? Sementara kau diam. Diam, melihatku dengan urat-uratmu yang menegang.

Perasaanku tak enak kala langit makin muram. Hei Sayangku, bisakah kita selesaikan ini semua cepat-cepat? Kau tahu aku tak bisa baca pikiran.. Kau tahu, aku bukan ‘psikolog’ seperti kata orang-orang yang awam, yang kata mereka mengecewakan karena aku tak bisa meramal. Sayang sekali, kau berkeras untuk bertahan dengan diam-mu, hanya menunjukkan dengan matamu yang makin menyipit, urat di lehermu yang menegang sedari tadi. Ah, tanda apa lagi yang bisa aku pastikan kalau kau benar-benar murka?

Sayangnya, aku tak akan pernah bisa membaca pikiran.
Aku memutuskan berbalik arah, dengan rindu yang terlalu perih.

Comments

Popular posts from this blog

Bumi Surabaya: Resort Hijau di Tengah Terik Kota

Saya kira, setelah menikah dan punya satu bocah kecil yang lucu, saya akan susah untuk kembali ke kebiasaan dahulu. Mungkin, dahulu saya kuat banget kali ya naik gunung, mendaki, bawa ransel. Tetapi seiring usia bertambah, kekuatan yang tak lagi sama apalagi stamina juga berbeda, liburannya dialihkan ke bentuk lain yang beda. Terutama semenjak pandemi, pilihan berwisata juga semakin sempit. Beberapa sektor ekonomi terpuruk dan jatuh, terutama sektor wisata dan transportasi. Tahun 2020 akhir, salah satu platform agen perjalanan berlogo burung biru mengadakan diskon hotel besar-besaran. Tentu saya ikutan, walaupun besaran diskonnya tak begitu besar banget seperti teman-teman lain yang ikut berburu, saya cukup puas. Jadilah, staycation pertama saya bersama suami dan bocah. Tujuannya: BUMI SURABAYA CITY HOTEL. Mimpi menginap di hotel bintang 5 saja nggak pernah, nah ini pertama kali nginap disana tentu saja kagok. Apalagi kamarnya ada bathubnya, kayak di film-film orang kaya :D Suasana dek...

Titik.

Titik. Inilah akhir dari kita. Ujung dari segalanya. Muara dari segala keluh kesah. Titik. Yakinlah, ini semua sudah berhenti. Sudah selesai, tak ada lagi. Apa lagi yang harus ada? Atau diada-adakan? Titik. Ini sudah terlanjur basah. Mau bagaimana? Semua kini usang. Pemberhentian. Ya, lanjut, tak berjalan. Titik. Tak ada lagi, antara kamu dan aku. Tak ada lagi kita. Tak ada lagi cerita. Duka? Bahagia? Tak ada... Apalagi yang harus kita perbuat selain 'titik'? Selain berhenti pada ujung segalanya. Bukan ujung bahagia memang, tapi ini sudah jalannya. Jalan terbaik untuk kita. Ah, titik.

J&T Express, Pemain Baru yang Gak Main-main

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima cukup uang untuk membeli handphone sebagai ganti Sony Xperia L saya yang sudah cukup uzur. Berbagai masalah saya alami mulai dari case yang sudah pecah, lemot, dan yang paling menyebalkan adalah sering bootloop sendiri tanpa alasan ketika dihidupkan. Pernah 2 hari saya hidup tanpa handphone, rasanya aneh mengingat saya sangat aktif menggunakannya. Akhirnya, saya memutuskan membeli Xiaomi Redmi Note 3 Pro sebagai gantinya. Karena di Surabaya ada beberapa mall yang khusus IT dan hp, jadilah saya blusukan. Awal blusukan cuma untuk survey harga. Ketika sudah mantap untuk membeli, saya kembali lagi. Lha kok, harganya jadi naik sekitar 500ribu rupiah dari harga standarnya. Sempat bingung mau beli yang memang naik, atau pesan saja dari rekan pacar saya yang ada di Trenggalek. Kebetulan, harganya masih cukup masuk akal dan tidak dipatok tarif super tinggi kayak yang di Surabaya. Jadilah saya memesan. Selayaknya orang yang beli online, otomatis harus m...