Skip to main content

Bimbang.

Sebenarnya saya ingin mem-posting sesuatu yang menyenangkan di blog ini. Tapi saya tak tahu, mengapa ujung-ujungnya curhat melulu ya? Hehehe. Entahlah, bagi saya menulis di blog itu sedikit banyak membantu mengurangi kegalauan hati saya. Manusia juga butuh galau kan? Biar hidup ada rasanya... :)

Bisa ditebak dengan mudah, saat ini saya sedang galau. Lagi-lagi soal asmara, yeah tentu saja. Ini semua diawali dengan masalah kepercayaan yang dari dulu tak kunjung menemukan ujungnya. Ya, kalau boleh jujur, rasa-rasanya kami berdua memang sulit untuk percaya satu sama lain.. Seperti juga saya, bawaannya curiga melulu padanya. Saya tahu, saya selalu bilang padanya, 'aku percaya kamu.' Seperti yang saya katakan, saya berusaha mempercayainya. Berusaha mengerti dan memahami apapun yang ia lakukan di sana. Ya, ia jauh. Jauh dari mata, jauh dari dekapan saya.

Kami sering bertemu. Frekuensi sering itu dihitung tiap sebulan minimal 2x bertemu. Dibandingkan pasangan lain yang juga sama-sama saling berjauhan, kami cukup sering untuk saling melepas rindu. Sayangnya, ketika kami bertemu, saya merasakan sebuah getaran yang berbeda. Perasaan tidak enak, perasaan aneh melihat tingkah lakunya..

Seakan-akan, ada seseorang lain yang menemaninya. Di saat saya tidak ada. Di  sampingnya.

Saya tahu ia kesepian,
begitu juga saya.
Saya tahu saat ia terluka, saya tak ada.
Begitu juga saya.

Intinya, apa yang saya lakukan, apa yang saya rasakan, sedikit banyak ia rasakan juga..
Mungkin, saat ini dia sudah mencium gelagat, apa yang sedang saya rasakan.

Bimbang..

Comments

Popular posts from this blog

Bumi Surabaya: Resort Hijau di Tengah Terik Kota

Saya kira, setelah menikah dan punya satu bocah kecil yang lucu, saya akan susah untuk kembali ke kebiasaan dahulu. Mungkin, dahulu saya kuat banget kali ya naik gunung, mendaki, bawa ransel. Tetapi seiring usia bertambah, kekuatan yang tak lagi sama apalagi stamina juga berbeda, liburannya dialihkan ke bentuk lain yang beda. Terutama semenjak pandemi, pilihan berwisata juga semakin sempit. Beberapa sektor ekonomi terpuruk dan jatuh, terutama sektor wisata dan transportasi. Tahun 2020 akhir, salah satu platform agen perjalanan berlogo burung biru mengadakan diskon hotel besar-besaran. Tentu saya ikutan, walaupun besaran diskonnya tak begitu besar banget seperti teman-teman lain yang ikut berburu, saya cukup puas. Jadilah, staycation pertama saya bersama suami dan bocah. Tujuannya: BUMI SURABAYA CITY HOTEL. Mimpi menginap di hotel bintang 5 saja nggak pernah, nah ini pertama kali nginap disana tentu saja kagok. Apalagi kamarnya ada bathubnya, kayak di film-film orang kaya :D Suasana dek...

Titik.

Titik. Inilah akhir dari kita. Ujung dari segalanya. Muara dari segala keluh kesah. Titik. Yakinlah, ini semua sudah berhenti. Sudah selesai, tak ada lagi. Apa lagi yang harus ada? Atau diada-adakan? Titik. Ini sudah terlanjur basah. Mau bagaimana? Semua kini usang. Pemberhentian. Ya, lanjut, tak berjalan. Titik. Tak ada lagi, antara kamu dan aku. Tak ada lagi kita. Tak ada lagi cerita. Duka? Bahagia? Tak ada... Apalagi yang harus kita perbuat selain 'titik'? Selain berhenti pada ujung segalanya. Bukan ujung bahagia memang, tapi ini sudah jalannya. Jalan terbaik untuk kita. Ah, titik.

J&T Express, Pemain Baru yang Gak Main-main

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima cukup uang untuk membeli handphone sebagai ganti Sony Xperia L saya yang sudah cukup uzur. Berbagai masalah saya alami mulai dari case yang sudah pecah, lemot, dan yang paling menyebalkan adalah sering bootloop sendiri tanpa alasan ketika dihidupkan. Pernah 2 hari saya hidup tanpa handphone, rasanya aneh mengingat saya sangat aktif menggunakannya. Akhirnya, saya memutuskan membeli Xiaomi Redmi Note 3 Pro sebagai gantinya. Karena di Surabaya ada beberapa mall yang khusus IT dan hp, jadilah saya blusukan. Awal blusukan cuma untuk survey harga. Ketika sudah mantap untuk membeli, saya kembali lagi. Lha kok, harganya jadi naik sekitar 500ribu rupiah dari harga standarnya. Sempat bingung mau beli yang memang naik, atau pesan saja dari rekan pacar saya yang ada di Trenggalek. Kebetulan, harganya masih cukup masuk akal dan tidak dipatok tarif super tinggi kayak yang di Surabaya. Jadilah saya memesan. Selayaknya orang yang beli online, otomatis harus m...