Skip to main content

Antara Cinta dan Pendakian

Bagiku, mendaki gunung adalah sebuah aktivitas menyenangkan. Dekat dengan alam, mencium wangi segar angin pegunungan, menapakkan kaki di tanah berdebu yang lengket oleh lumpur jika kena hujan, serta memandangi keindahan hutan dan kanopi-kanopinya. Mendaki gunung seakan sebuah pengisian ulang semangat bagiku, setelah lama dikurung panas atap dan gedung-gedung beton. Juga, merasakan keindahan nikmatnya Sang Pencipta dan belajar bagaimana kehidupan bekerja dengan uniknya. Mendaki gunung, juga memberi pelajaran dan pengalaman bagiku, seperti hidup yang harus dijalani dengan segala kompleksitasnya.

Mendaki gunung adalah cinta. Cinta kepada alam, juga cinta kepada sesama manusia. Menanamkan sifat bersahabat pada alam dan rasa bertoleransi kepada sesama manusia. Meresapi tiap-tiap sendi kehidupan, kadang di atas kadang di bawah. Percayakah kamu, jika mendaki gunung seperti miniatur kehidupan? Bahwa segala sesuatu dimulai dari bawah, dengan menerjang sulitnya lintasan pendakian, untuk mencapai puncak..

Bahwa mendaki gunung juga sebuah perjalanan cinta.

Bagiku mendaki gunung lebih dari sekedar hobi. Seperti hobi-hobi lain yang juga punya pemiliknya masing-masing. Orang yang suka musik, maka dia akan merasa senang apabila bermain musik. Orang yang menyukai fotografi, dia juga merasa senang apabila mendapatkan objek yang bagus melalui lensanya. Tidak ada yang salah dengan mendaki gunung, meskipun yang melakukannya adalah seorang wanita.

Kadang, orang tak mengerti jalan pikiran para pendaki. Capek-capek ke atas, lalu turun lagi. Sudah begitu, biaya yang dikeluarkan tak sedikit pula. Daan segala resiko lainnya. Hei, itu sudah konsekuensi. Orang yang menyukai musik, dia akan berusaha memfasilitasi kemampuan bermusiknya. Jika dia menyukai alat musik gitar, contohnya, dia juga tak akan sayang membelanjakan uangnya 'sedikit' saja untuk membeli gitar yang mampu mendukung kemampuan bermainnya. Hanya saja bedanya dengan orang yang hobi bermain musik, orang yang menyukai pendakian tak banyak yang mendukung, dan masih juga ada yang memandang sebelah mata.

Padahal, sah-sah saja menyukai hal yang tidak orang lain suka, betul? Semua itu kembali ke pribadi orang masing-masing.

Setiap orang punya cara sendiri memaknai hidupnya. Pemusik, pedagang, pencopet, bahkan pendaki pun juga punya cara uniknya sendiri-sendiri. Tinggal dukungan dari orang lain, apakah ikut serta mendukung atau mencaci-maki?

Comments

Popular posts from this blog

Bumi Surabaya: Resort Hijau di Tengah Terik Kota

Saya kira, setelah menikah dan punya satu bocah kecil yang lucu, saya akan susah untuk kembali ke kebiasaan dahulu. Mungkin, dahulu saya kuat banget kali ya naik gunung, mendaki, bawa ransel. Tetapi seiring usia bertambah, kekuatan yang tak lagi sama apalagi stamina juga berbeda, liburannya dialihkan ke bentuk lain yang beda. Terutama semenjak pandemi, pilihan berwisata juga semakin sempit. Beberapa sektor ekonomi terpuruk dan jatuh, terutama sektor wisata dan transportasi. Tahun 2020 akhir, salah satu platform agen perjalanan berlogo burung biru mengadakan diskon hotel besar-besaran. Tentu saya ikutan, walaupun besaran diskonnya tak begitu besar banget seperti teman-teman lain yang ikut berburu, saya cukup puas. Jadilah, staycation pertama saya bersama suami dan bocah. Tujuannya: BUMI SURABAYA CITY HOTEL. Mimpi menginap di hotel bintang 5 saja nggak pernah, nah ini pertama kali nginap disana tentu saja kagok. Apalagi kamarnya ada bathubnya, kayak di film-film orang kaya :D Suasana dek...

Titik.

Titik. Inilah akhir dari kita. Ujung dari segalanya. Muara dari segala keluh kesah. Titik. Yakinlah, ini semua sudah berhenti. Sudah selesai, tak ada lagi. Apa lagi yang harus ada? Atau diada-adakan? Titik. Ini sudah terlanjur basah. Mau bagaimana? Semua kini usang. Pemberhentian. Ya, lanjut, tak berjalan. Titik. Tak ada lagi, antara kamu dan aku. Tak ada lagi kita. Tak ada lagi cerita. Duka? Bahagia? Tak ada... Apalagi yang harus kita perbuat selain 'titik'? Selain berhenti pada ujung segalanya. Bukan ujung bahagia memang, tapi ini sudah jalannya. Jalan terbaik untuk kita. Ah, titik.

J&T Express, Pemain Baru yang Gak Main-main

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima cukup uang untuk membeli handphone sebagai ganti Sony Xperia L saya yang sudah cukup uzur. Berbagai masalah saya alami mulai dari case yang sudah pecah, lemot, dan yang paling menyebalkan adalah sering bootloop sendiri tanpa alasan ketika dihidupkan. Pernah 2 hari saya hidup tanpa handphone, rasanya aneh mengingat saya sangat aktif menggunakannya. Akhirnya, saya memutuskan membeli Xiaomi Redmi Note 3 Pro sebagai gantinya. Karena di Surabaya ada beberapa mall yang khusus IT dan hp, jadilah saya blusukan. Awal blusukan cuma untuk survey harga. Ketika sudah mantap untuk membeli, saya kembali lagi. Lha kok, harganya jadi naik sekitar 500ribu rupiah dari harga standarnya. Sempat bingung mau beli yang memang naik, atau pesan saja dari rekan pacar saya yang ada di Trenggalek. Kebetulan, harganya masih cukup masuk akal dan tidak dipatok tarif super tinggi kayak yang di Surabaya. Jadilah saya memesan. Selayaknya orang yang beli online, otomatis harus m...