Senja itu masih tetap sama. Masih langit yang bersemburat merah. Di horizonnya mentari mulai pelan-pelan tenggelam. Dan aku masih berdiri di ujung dermaga. Menunggumu, menunggu orang yang satu-satunya hadir dalam mimpiku. Mimpi-mimpi yang selama ini berujung manis denganmu. Sayang, mimpi itu terlalu fana untukku. Angin laut menampar lembut pipi-pipiku. Pipi yang biasa menahan tangis kesendirianku. Tangisku yang mengingat tawa bersamamu. Sekaligus, tangis yang meredam sakitnya aku menyembunyikan ini semua darimu. Sekali lagi aku menghela nafas. Mencoba merelakan semuanya. Iya, semua kenangan indah itu. Ku dengar suaramu dari arah belakang. Aku menoleh, berharap itu memang suaramu, suara yang ku kenal. Sayang, ternyata bukan. Aku terlalu hapal dengan suaramu, sampai-sampai aku terlalu berhalusinasi, dimana ada aku di situ ada kamu. Perlahan, aku memejamkan mata. Merasakan sakitnya memendam perasaan. Memendam cintaku yang terlalu mendarah daging. Gigiku bergemelutuk, mulutku mer...