Senja itu masih tetap sama. Masih langit yang bersemburat merah. Di horizonnya mentari mulai pelan-pelan tenggelam. Dan aku masih berdiri di ujung dermaga. Menunggumu, menunggu orang yang satu-satunya hadir dalam mimpiku. Mimpi-mimpi yang selama ini berujung manis denganmu. Sayang, mimpi itu terlalu fana untukku.
Angin laut menampar lembut pipi-pipiku. Pipi yang biasa menahan tangis kesendirianku. Tangisku yang mengingat tawa bersamamu. Sekaligus, tangis yang meredam sakitnya aku menyembunyikan ini semua darimu. Sekali lagi aku menghela nafas. Mencoba merelakan semuanya. Iya, semua kenangan indah itu.
Ku dengar suaramu dari arah belakang. Aku menoleh, berharap itu memang suaramu, suara yang ku kenal. Sayang, ternyata bukan. Aku terlalu hapal dengan suaramu, sampai-sampai aku terlalu berhalusinasi, dimana ada aku di situ ada kamu. Perlahan, aku memejamkan mata. Merasakan sakitnya memendam perasaan. Memendam cintaku yang terlalu mendarah daging. Gigiku bergemelutuk, mulutku merutuk. Seperti inikah sakitnya tak bisa memilikimu?
Aku terdiam menatap batas horizon. Pelan-pelan langit berubah warna begitu indah. Sampai di situ, aku merasa lelah. Lelah akan sakit ini, lelah mencintaimu diam-diam.
“Mawar...”
Suara itu. Iya, suaramu memanggilku. Aku meredam-redam. Tapi suaramu begitu nyata. Barangkali, aku berhalusinasi lagi? Aku mengabaikannya. Masih kucoba memejamkan mata. Aku berharap, halusinasi ini memang benar sebuah ilusi pendengaran.
“Mawar... Sedang apa di sini?”
Tangan itu. Iya, tanganmu yang lembut menggamit jemariku. Lalu aku sejenak tersadar, dan menoleh ke belakang. Dan itu kamu. Sedang tersenyum menatapku.
Satu-dua tarikan, kamu menghempaskanku dalam dadamu yang hangat. Otakku juga tanggap, ini benar-benar aroma tubuhmu yang aku kenal.
“Aku merindukanmu, Mawar. Pulang, ya? Bersamaku, jangan pernah sendirian...”
Aku mengangguk. Begitu pasrah.
Comments
Post a Comment