Skip to main content

Menebak Hidup

Hidup itu menebak tanda tanya. Kita tak akan pernah tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya. Kita hanya bisa menerka, memprediksikan, tanpa tahu masa depan. Kita mungkin bisa berspekulasi dengan berbagai kemungkinan yang ada. Tapi kita tetap tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi secara pasti.


Malam ini, saya galau lagi. Ya, mungkin postingan saya memang banyak yang galau. Tapi tak apalah, daripada saya tak punya bahasan untuk menulis. Sejenak saya tersadarkan sesuatu, manusia itu tidak ada yang konsisten. Ya itu, berkaitan dengan yang tadi. Sebentar manusia berharap, tapi kemudian Tuhan punya rencana yang berkebalikan. Bahwa hidup itu memiliki banyak kerumitan. Tapi kalau tidak rumit, namanya bukan hidup. Hahaha. Siklus hidup saya terbilang biasa saja mungkin, ya. Galau-Bahagia-Galau-Bahagia. Sudah, begitu saja. Namun justru, di setiap proses kehidupan itu, saya sungguh menikmatinya.

Di status akun seseorang, dia pernah berkata bahwa bahagia itu ada saatnya. Saya akui itu memang benar. Kadang, saya juga berpikiran, seperti apa bahagia yang akan didapat? Seperti apa proses mendapatkannya? Apakah menyakitkan? Apakah menyenangkan? Apakah rasanya aneh luar biasa? Hal ini sama saja dengan perasaan galau yang juga dirasakan manusia.

Hidup itu juga menunggu. Menunggu kebahagiaan, menunggu kesedihan. Setiap saat ketika hal itu datang, silih berganti, manusia bakal merasakan prosesnya. Beragam pula reaksinya. Beragam pula cara menghadapinya. Bagi saya, inilah keunikan manusia. Manusia itu tidak ada yang sama seorangpun. Karena, pada dasarnya manusia itu unik. Persamaan dari para manusia itu adalah, mereka menggunakan keunikan masing-masing dalam menebak hidup..

Comments

Popular posts from this blog

Bumi Surabaya: Resort Hijau di Tengah Terik Kota

Saya kira, setelah menikah dan punya satu bocah kecil yang lucu, saya akan susah untuk kembali ke kebiasaan dahulu. Mungkin, dahulu saya kuat banget kali ya naik gunung, mendaki, bawa ransel. Tetapi seiring usia bertambah, kekuatan yang tak lagi sama apalagi stamina juga berbeda, liburannya dialihkan ke bentuk lain yang beda. Terutama semenjak pandemi, pilihan berwisata juga semakin sempit. Beberapa sektor ekonomi terpuruk dan jatuh, terutama sektor wisata dan transportasi. Tahun 2020 akhir, salah satu platform agen perjalanan berlogo burung biru mengadakan diskon hotel besar-besaran. Tentu saya ikutan, walaupun besaran diskonnya tak begitu besar banget seperti teman-teman lain yang ikut berburu, saya cukup puas. Jadilah, staycation pertama saya bersama suami dan bocah. Tujuannya: BUMI SURABAYA CITY HOTEL. Mimpi menginap di hotel bintang 5 saja nggak pernah, nah ini pertama kali nginap disana tentu saja kagok. Apalagi kamarnya ada bathubnya, kayak di film-film orang kaya :D Suasana dek...

Titik.

Titik. Inilah akhir dari kita. Ujung dari segalanya. Muara dari segala keluh kesah. Titik. Yakinlah, ini semua sudah berhenti. Sudah selesai, tak ada lagi. Apa lagi yang harus ada? Atau diada-adakan? Titik. Ini sudah terlanjur basah. Mau bagaimana? Semua kini usang. Pemberhentian. Ya, lanjut, tak berjalan. Titik. Tak ada lagi, antara kamu dan aku. Tak ada lagi kita. Tak ada lagi cerita. Duka? Bahagia? Tak ada... Apalagi yang harus kita perbuat selain 'titik'? Selain berhenti pada ujung segalanya. Bukan ujung bahagia memang, tapi ini sudah jalannya. Jalan terbaik untuk kita. Ah, titik.

J&T Express, Pemain Baru yang Gak Main-main

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima cukup uang untuk membeli handphone sebagai ganti Sony Xperia L saya yang sudah cukup uzur. Berbagai masalah saya alami mulai dari case yang sudah pecah, lemot, dan yang paling menyebalkan adalah sering bootloop sendiri tanpa alasan ketika dihidupkan. Pernah 2 hari saya hidup tanpa handphone, rasanya aneh mengingat saya sangat aktif menggunakannya. Akhirnya, saya memutuskan membeli Xiaomi Redmi Note 3 Pro sebagai gantinya. Karena di Surabaya ada beberapa mall yang khusus IT dan hp, jadilah saya blusukan. Awal blusukan cuma untuk survey harga. Ketika sudah mantap untuk membeli, saya kembali lagi. Lha kok, harganya jadi naik sekitar 500ribu rupiah dari harga standarnya. Sempat bingung mau beli yang memang naik, atau pesan saja dari rekan pacar saya yang ada di Trenggalek. Kebetulan, harganya masih cukup masuk akal dan tidak dipatok tarif super tinggi kayak yang di Surabaya. Jadilah saya memesan. Selayaknya orang yang beli online, otomatis harus m...