Indonesia adalah bangsa yang besar. Ia terdiri dari berbagai
macam komponen masyarakat. Dari bayi sampai lanjut usia. Dari rakyat buta huruf
sampai para cendekia. Dari suku terdalam sampai perbatasan negara. Dan hal-hal
lain yang tak bisa saya sebutkan. Indonesia, negeri yang beraneka ragam ini.
Negeri yang besar ini.
Masyarakatnya sendiri saat ini bilang, Indonesia sedang
keropos. Politiknya penuh borok. Generasi tua tak punya harapan melanjutkan
pembangunan. Apalagi, menyambut tahun dimana pesta demokrasi Indonesia
diselenggarakan, 2014, makin bertebaran calon-calon legislatif yang notabene
‘numpang narsis’ lewat baliho-baliho di pinggir jalan. Cukup mudah menjumpai
wajah-wajah mereka yang tersenyum lebar, disertai jargon-jargon bertopik sama:
PILIH SAYA MENJADI WAKIL ANDA.
Yakin, mereka akan benar-benar menjadi wakil anda?
Agaknya, Indonesia perlu berbenah. Bangsa ini sedang di
ambang batas skeptisme generasi mudanya terhadap dunia politiknya. Orang
bilang, generasi muda adalah harapan masa depan. Apa jadinya kalau generasi
mudanya skeptis, pasif, dan apatis dengan pesta demokrasi pada 2014 mendatang?
Apa jadinya kalau hak pilih mereka disalah-gunakan? Apa jadinya kalau caleg
yang mereka coblos salah sasaran? Bisa dibayangkan efek yang terjadi jika suara
kaum muda ini digunakan dengan fatal.. Yah, walaupun mereka tidak sengaja.
Tidak sengaja asal pilih.
Mahasiswa adalah agen perubahan. Slogan-slogan ini sering
sekali didengungkan ketika saya menjadi mahasiswa baru. Saya percaya bahwa
mahasiswa adalah agen perubahan. Tetapi, apakah yang terjadi jika
mahasiswa-mahasiswa ini justru tak pandai menggunakan kesempatan mereka untuk
mengubah Indonesia? Pada pesta demokrasi 2014 mendatang, adalah benar-benar
kesempatan emas untuk menunjukkan aspirasi bahwa generasi muda Indonesia juga
punya andil yang besar dalam membangun negeri ini. Tak melulu harus demo
menuntut para wakil rakyat itu untuk peka, harusnya, mahasiswa dan kaum muda
juga harus lebih peka. Daripada lelah-lelah menuntut para wakil rakyat yang
sebentar lagi lengser, ‘tuntutlah’ diri kita untuk lebih peka pada calon-calon
legislatif di daerah pemilihan kita.
Eh, gak kenal? Sayang sekali.
Kaum muda terkenal
dengan idealismenya. Sebelum idealisme kita dipertentangkan untuk para wakil
rakyat, kita harus idealis dalam memilih yang terbaik untuk Indonesia. Saya
punya pengalaman, ketika saya mencoblos di TPU untuk pertama kali, saya
mengutuk diri saya sendiri. Saya merasa idealisme saya runtuh ketika saya
memilih calon yang tak saya kehendaki. Kenapa? Ya, saya dipaksa oleh Ibu saya.
Dalam hati, saya berjanji, selanjutnya akan menjaga idealisme saya. Kelak,
ketika para wakil rakyat itu ketahuan bolongnya, saya punya alasan untuk
menagih janji mereka.
Indonesia tak hanya milik para pendahulu. Indonesia adalah
milik kaum muda. Indonesia adalah bangsa yang penuh dengan anak mudanya yang
optimis akan masa depan bangsanya. Saya harap saya bisa begitu. Saya harap anda
juga.
Comments
Post a Comment