Skip to main content

Memasaklah dan Jangan Lupa Bahagia!

Halo!

Sekian lama nggak main blog, ya ada baiknya kita menulis kembali sebagai latihan bahwa kita mengasah kemampuan menulis kita. Yaa, biar nggak melulu menulis skripsi aja kan, ya? *dilempar panci*. Nah, setelah sekian lama kita tidak bersua, sekarang saya sedang ingin bercinta menulis sesuatu yang ringan, santai dan mudah dicerna pembaca. Berkaitan dengan hobi saya akhir-akhir ini juga, sih. Apa hayo? Yak betul, MEMASAK!

Memasak, pada umumnya di Indonesia dianggap sebagai sebuah kodrat wanita. Eits jangan salah, sekarang banyak juga lelaki-lelaki yang profesional dalam bidang memasak. Ganteng pula. Apalagi kalau suamiable *duh* *kecepian* *menunggu jodoh* *abaikan*. Baiklah, sekarang saya bukan berbagi bagaimana masak memasak di dapur, sebab di dapur itu wesbiyasa walaupun dapur itu adalah tempat khusus yang diciptakan untuk memasak. Bagaimana kalau memasak di gunung? Apalagi, memasak ketika pendakian? Ribet? Nggak kok!

Asyiknya masak di gunung, di pantai, dimanapun di alam bebas bisa jadi sama asyiknya seperti masak di dapur kosan rumah sendiri. Yeah, walaupun agak ribet dengan bawa-bawa perabotan lenong macam nesting, kompor lapangan, bahkan alat masaknya. Ada memang perlengkapan memasak yang dirancang untuk ultralight hiking alias pendakian super ringan, contohnya pakai cooking set. Karena masih belum ada biaya, jadinya bawa perabotan lenong saja sudah cukup bagi saya :’) Percayalah, akhir-akhir ini saya jadi lebih suka memasak di alam bebas walaupun harus bawa perabotan segitu beratnya. Hihihi..

Jadi, karena ingin mengawali tulisan tentang masak-memasak, saya mau sharing tentang gear saya *cailah bahasanya gear :’)*. Berikut deretannya:

1. Kompor lapangan beserta bahan bakar
Di deretan pertama alias maha penting adalah kompor. Nggak ada kompor bakalan nggak bisa masak, kecuali bisa bikin api unggun dan saya nggak bisa bikinnya makanya pake kompor ajaa. Pakai api unggun juga berpotensi menimbulkan jelaga, kalau lupa dimatikan nanti malah merembet ke semak-semak, terbakar deh. Nggak asyik dong, lagi enak tidur malah kebakaran :’)

Kompor yang saya pakai adalah kompor gas merek gasmate. Too mainstream? Hehe ya tapi itu sih yang sesuai budget. Cukup ringkas juga ketika dipack, bisa dimasukkan ke dalam nesting jadi nggak makan tempat lagi. Plus bahan bakarnya yaitu gas, cukup mudah didapat di minimarket-minimarket atau supermarket besar. Untuk 2 hari satu malam dengan 4 orang dan 2-3 kali masak, saya biasanya cukup pakai 1 tabung gas saja. Itupun masih sisa, dikiit. Hehehe. Jadi intinya, kalau mau memasak, disesuaikan juga ya urusan bahan bakarnya, kalau mau pesta-pesta, makan besar, banyak orang, bawa gas yang lebih daripada gak ada gas sama sekali. 

Ingat, paling penting juga, selalu mengecek kondisi si kompor sebelum berangkat. Saya pernah nih, lupa mengecek kondisi kompor. Yaudah langsung berangkat aja, kan. Eh, sampai sana kompornya rusak. Mana cuma bawa satu kompor. Beruntung teman seperjalanan waktu itu cukup berpengalaman dan alhamdulillah si kompor bisa digunakan walaupun nyalanya kecil bingit :’) Ternyata, si kompor perlu dibersihkan dulu bagian dalamnya akibat reduksi gas yang nggak bersih, perlu diganti beberapa komponennya juga. Setelah saya bawa ke teman yang kebetulan punya bengkel mesin, si kompor pulih lagi. Yaay.

2. Nesting TNI
Nesting ini benda yang kalo bisa jangan lupa dibawa deh. Walaupun berat, dia ini termasuk serbaguna. Bisa jadi panci, bisa jadi wajan, bisa jadi mangkok, bisa jadi penanak nasi, bisa jadi penampung air, err apalagi ya? Banyak deh. Nesting yang saya punya ada tiga bagian, panci yang kecil, medium, dan paling besar yang ada bolongan untuk gantungan nasi. Biasanya kegunaannya juga disuesuaikan. Yang tingginya paling pendek, biasanya untuk goreng-menggoreng atau bikin air panas skala sedikit aja. Kalau yang medium, biasanya menjerang air, atau bikin sup. Yang besar sendiri, sama aja sih kayak yang medium tapi biasanya untuk bikin nasi karena ada gantungannya.

Si nesting juga punya gagang portabel yang bisa dilepas-lepas. Jadi kalau ingin menjadikan nesting sebagai wajan datar, sah-sah saja. Tinggal disesuaikan lagi dengan tipe memasak seperti apakah kamu? Pokoknya, memasak itu ya suka-suka kamu! :)

3. Teflon anti lengket
Ini sebenarnya benda yang nggak perlu dibawa ketika pendakian, nggak terlalu penting juga karena tugasnya bisa digantikan nesting. Tetapi bagi saya, adanya teflon anti lengket ini sangaaat membantu apalagi kalo ingin menumis, goreng-goreng, dan lain sebagainya. Karena nesting juga tidak punya lapisan khusus, kadang yang digoreng di nesting bisa gosong ._. Seperti waktu itu, saya membuat makaroni telur. Bagian bawahnya gosong duluan, bagian atasnya belum matang.. Cedih deh, tapi teteup dimakan :p

Teflon yang saya bawa juga bukan ukuran yang besar. Saya memilih yang tipis dan ringkas dibawa. Ukuran 15-20 cm menurut saya adalah ukuran yang standar. Ketika dibawa, si teflon dibungkus dulu pakai kertas koran. Tujuannya ya biar nggak gampang kotor, apalagi pas dimasukkan kembali. Kan sayang, kalau masih ada sisa-sisa margarin atau minyak goreng yang lengket lalu mengotori tas kita. Jadi, jangan lupa tetap jaga higienitas ya! 

4. Spatula/sendok/centong nasi
Sebenarnya membawa spatula tidak diwajibkan, tetapi karena bagi saya penting yaudah saya list saja di daftar. Hehe. Adanya spatula sangat membantu terutama untuk membalik dadar, tempe, tahu, telur goreng, menumis, apalagi mengaduk campuran bahan. Saya kadang membawa spatula kayu, tapi spatula kayu ini ndrawasi, karena gampang patah dan saya takut patah. Akhirnya, saya mencari spatula besi yang ukurannya kecil tapi nggak kekecilan, medium saja lah yang penting ketika di-pack tidak makan tempat.

Sendok juga benda yang penting, pengalaman saya ketika nggak bawa sendok itu rasanya hambar.. mau ngaduk teh nggak bisa, mau nyicipin makanan juga nggak bisa, ngaduk sup juga susah, apalagi makan nasi campur sup.. argh :(( *now playing: raisa-serba salah* Jadi ingatlah, tetap bawa sendok dan jangan ditinggalkan. 

5. Pisau
Pisau juga benda yang penting untuk dibawa, sebab tanpa pisau kita nggak bisa memotong apa-apa. Apalagi kenangan masa lalu. Lah.

Pisau yang saya bahas ini bukan pisau survival, sebab beda cara penggunaannya dan pisau survival juga nggak tajam. Jadi, bawalah pisau dapur, walaupun agak ribet, tetapi pisau dapur ini berguna. Kecuali kalau memang tidak ada bahan yang akan dipotong, ya nggak apa-apa juga kalau nggak dibawa. Contohnya kalau bawa sosis sama mie doang, yaudah nggak usah dipotong sosisnya pakai pisau, tapi pakai sendok. Hahaha. Jangan ditiru ya?


Jadii teman-teman semua, persiapkan perjalanan dan pendakianmu dengan sebaik-baiknya. Perhitungkan bahan masakan yang akan kamu bawa, jangan berlebihan karena kalau berlebihan, sisa, dibuang deh. Kan sayang banget sementara masih banyak orang kelaparan :’) Perhitungkan pula, packingnya bagaimana, bawanya bagaimana, perlu dibawa semua atau enggak? Baiknya, memang dirundingkan dengan teman seperjalanan dulu sebelum berangkat. Oya, setelah ini saya ingin sharing tentang masak ceria saya selama perjalanan. Nggak hanya di gunung, di pantai pun sama asyiknya. Selamat memasak dengan alam, selamat menikmati semesta dan jangan lupa bahagia! :D

Comments

Popular posts from this blog

Bumi Surabaya: Resort Hijau di Tengah Terik Kota

Saya kira, setelah menikah dan punya satu bocah kecil yang lucu, saya akan susah untuk kembali ke kebiasaan dahulu. Mungkin, dahulu saya kuat banget kali ya naik gunung, mendaki, bawa ransel. Tetapi seiring usia bertambah, kekuatan yang tak lagi sama apalagi stamina juga berbeda, liburannya dialihkan ke bentuk lain yang beda. Terutama semenjak pandemi, pilihan berwisata juga semakin sempit. Beberapa sektor ekonomi terpuruk dan jatuh, terutama sektor wisata dan transportasi. Tahun 2020 akhir, salah satu platform agen perjalanan berlogo burung biru mengadakan diskon hotel besar-besaran. Tentu saya ikutan, walaupun besaran diskonnya tak begitu besar banget seperti teman-teman lain yang ikut berburu, saya cukup puas. Jadilah, staycation pertama saya bersama suami dan bocah. Tujuannya: BUMI SURABAYA CITY HOTEL. Mimpi menginap di hotel bintang 5 saja nggak pernah, nah ini pertama kali nginap disana tentu saja kagok. Apalagi kamarnya ada bathubnya, kayak di film-film orang kaya :D Suasana dek...

Titik.

Titik. Inilah akhir dari kita. Ujung dari segalanya. Muara dari segala keluh kesah. Titik. Yakinlah, ini semua sudah berhenti. Sudah selesai, tak ada lagi. Apa lagi yang harus ada? Atau diada-adakan? Titik. Ini sudah terlanjur basah. Mau bagaimana? Semua kini usang. Pemberhentian. Ya, lanjut, tak berjalan. Titik. Tak ada lagi, antara kamu dan aku. Tak ada lagi kita. Tak ada lagi cerita. Duka? Bahagia? Tak ada... Apalagi yang harus kita perbuat selain 'titik'? Selain berhenti pada ujung segalanya. Bukan ujung bahagia memang, tapi ini sudah jalannya. Jalan terbaik untuk kita. Ah, titik.

J&T Express, Pemain Baru yang Gak Main-main

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima cukup uang untuk membeli handphone sebagai ganti Sony Xperia L saya yang sudah cukup uzur. Berbagai masalah saya alami mulai dari case yang sudah pecah, lemot, dan yang paling menyebalkan adalah sering bootloop sendiri tanpa alasan ketika dihidupkan. Pernah 2 hari saya hidup tanpa handphone, rasanya aneh mengingat saya sangat aktif menggunakannya. Akhirnya, saya memutuskan membeli Xiaomi Redmi Note 3 Pro sebagai gantinya. Karena di Surabaya ada beberapa mall yang khusus IT dan hp, jadilah saya blusukan. Awal blusukan cuma untuk survey harga. Ketika sudah mantap untuk membeli, saya kembali lagi. Lha kok, harganya jadi naik sekitar 500ribu rupiah dari harga standarnya. Sempat bingung mau beli yang memang naik, atau pesan saja dari rekan pacar saya yang ada di Trenggalek. Kebetulan, harganya masih cukup masuk akal dan tidak dipatok tarif super tinggi kayak yang di Surabaya. Jadilah saya memesan. Selayaknya orang yang beli online, otomatis harus m...