Skip to main content

#1

“Kita adalah orang-orang yang patah,” ujarmu lirih, suatu ketika.

Di sore, kau berbilang senyum getir denganku. Merajuk tak henti, menatapku dengan dua mata yang menyimpan harapan cemas. Kau tentu tahu, sayang, aku bukan orang yang tak tanggap isyarat dari apa yang kau sembunyikan. Hanya saja, terlampau cepat aku menceramahimu tentang rinduku yang berdebam-debam. Dan kau, tetap melirih dan berucap.

“Apakah kita sekumpulan jalang berhidung belang?”

Aku, sekali lagi, menatap rutukan daun-daun kering yang terbawa angin. Mereka lembut, tapi memerah pipiku sebab usahamu yang makin menjauh. Kita, jarak itu, harapan padam itu. Kita, yang mati satu-demi-satu. Kita, aku dan kau yang tak pernah ‘memilih’ bertemu.

Terpaksa, kah?

Tidak, sayangku. Demikian jelas aku mengutarakan betapa merananya nyaliku menciut ketika menatap bulat cokelat warna matamu. Demikian itu pula, sedetikpun aku ribut menahan untuk terjebak dengan keruwetan merindukanmu. Tidak sayangku, maafkan aku pula yang cuma menggapai dingin malam sementara satu-dua-kali kau bilang rindu dengan banal. Sebodoh itu?

Mereka bilang,
Kita bernama jarak. Kita bersuap derita, ketika kita membilang cinta. Mereka bilang selama ini kita salah, terlalu bodoh menjaring harapan, terlalu cepat menyimpulkan tali merah. Sayangku, jika aku berkesempatan menuduh dunia, maka mimbar podium paling ujung akan kutebas demi namamu..

“Kita memang orang-orang yang patah,” kau bersikeras.

Lalu, tak pernah ku lihat lagi warna bola cokelat seperti milikmu.

Comments

Popular posts from this blog

Bumi Surabaya: Resort Hijau di Tengah Terik Kota

Saya kira, setelah menikah dan punya satu bocah kecil yang lucu, saya akan susah untuk kembali ke kebiasaan dahulu. Mungkin, dahulu saya kuat banget kali ya naik gunung, mendaki, bawa ransel. Tetapi seiring usia bertambah, kekuatan yang tak lagi sama apalagi stamina juga berbeda, liburannya dialihkan ke bentuk lain yang beda. Terutama semenjak pandemi, pilihan berwisata juga semakin sempit. Beberapa sektor ekonomi terpuruk dan jatuh, terutama sektor wisata dan transportasi. Tahun 2020 akhir, salah satu platform agen perjalanan berlogo burung biru mengadakan diskon hotel besar-besaran. Tentu saya ikutan, walaupun besaran diskonnya tak begitu besar banget seperti teman-teman lain yang ikut berburu, saya cukup puas. Jadilah, staycation pertama saya bersama suami dan bocah. Tujuannya: BUMI SURABAYA CITY HOTEL. Mimpi menginap di hotel bintang 5 saja nggak pernah, nah ini pertama kali nginap disana tentu saja kagok. Apalagi kamarnya ada bathubnya, kayak di film-film orang kaya :D Suasana dek...

Titik.

Titik. Inilah akhir dari kita. Ujung dari segalanya. Muara dari segala keluh kesah. Titik. Yakinlah, ini semua sudah berhenti. Sudah selesai, tak ada lagi. Apa lagi yang harus ada? Atau diada-adakan? Titik. Ini sudah terlanjur basah. Mau bagaimana? Semua kini usang. Pemberhentian. Ya, lanjut, tak berjalan. Titik. Tak ada lagi, antara kamu dan aku. Tak ada lagi kita. Tak ada lagi cerita. Duka? Bahagia? Tak ada... Apalagi yang harus kita perbuat selain 'titik'? Selain berhenti pada ujung segalanya. Bukan ujung bahagia memang, tapi ini sudah jalannya. Jalan terbaik untuk kita. Ah, titik.

J&T Express, Pemain Baru yang Gak Main-main

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima cukup uang untuk membeli handphone sebagai ganti Sony Xperia L saya yang sudah cukup uzur. Berbagai masalah saya alami mulai dari case yang sudah pecah, lemot, dan yang paling menyebalkan adalah sering bootloop sendiri tanpa alasan ketika dihidupkan. Pernah 2 hari saya hidup tanpa handphone, rasanya aneh mengingat saya sangat aktif menggunakannya. Akhirnya, saya memutuskan membeli Xiaomi Redmi Note 3 Pro sebagai gantinya. Karena di Surabaya ada beberapa mall yang khusus IT dan hp, jadilah saya blusukan. Awal blusukan cuma untuk survey harga. Ketika sudah mantap untuk membeli, saya kembali lagi. Lha kok, harganya jadi naik sekitar 500ribu rupiah dari harga standarnya. Sempat bingung mau beli yang memang naik, atau pesan saja dari rekan pacar saya yang ada di Trenggalek. Kebetulan, harganya masih cukup masuk akal dan tidak dipatok tarif super tinggi kayak yang di Surabaya. Jadilah saya memesan. Selayaknya orang yang beli online, otomatis harus m...