“Kita adalah orang-orang yang patah,” ujarmu lirih, suatu ketika.
Di sore, kau berbilang senyum getir denganku. Merajuk tak henti, menatapku dengan dua mata yang menyimpan harapan cemas. Kau tentu tahu, sayang, aku bukan orang yang tak tanggap isyarat dari apa yang kau sembunyikan. Hanya saja, terlampau cepat aku menceramahimu tentang rinduku yang berdebam-debam. Dan kau, tetap melirih dan berucap.
Di sore, kau berbilang senyum getir denganku. Merajuk tak henti, menatapku dengan dua mata yang menyimpan harapan cemas. Kau tentu tahu, sayang, aku bukan orang yang tak tanggap isyarat dari apa yang kau sembunyikan. Hanya saja, terlampau cepat aku menceramahimu tentang rinduku yang berdebam-debam. Dan kau, tetap melirih dan berucap.
“Apakah kita sekumpulan jalang berhidung belang?”
Aku, sekali lagi, menatap rutukan daun-daun kering yang terbawa angin. Mereka lembut, tapi memerah pipiku sebab usahamu yang makin menjauh. Kita, jarak itu, harapan padam itu. Kita, yang mati satu-demi-satu. Kita, aku dan kau yang tak pernah ‘memilih’ bertemu.
Terpaksa, kah?
Tidak, sayangku. Demikian jelas aku mengutarakan betapa merananya nyaliku menciut ketika menatap bulat cokelat warna matamu. Demikian itu pula, sedetikpun aku ribut menahan untuk terjebak dengan keruwetan merindukanmu. Tidak sayangku, maafkan aku pula yang cuma menggapai dingin malam sementara satu-dua-kali kau bilang rindu dengan banal. Sebodoh itu?
Mereka bilang,
Kita bernama jarak. Kita bersuap derita, ketika kita membilang cinta. Mereka bilang selama ini kita salah, terlalu bodoh menjaring harapan, terlalu cepat menyimpulkan tali merah. Sayangku, jika aku berkesempatan menuduh dunia, maka mimbar podium paling ujung akan kutebas demi namamu..
“Kita memang orang-orang yang patah,” kau bersikeras.
Lalu, tak pernah ku lihat lagi warna bola cokelat seperti milikmu.
Aku, sekali lagi, menatap rutukan daun-daun kering yang terbawa angin. Mereka lembut, tapi memerah pipiku sebab usahamu yang makin menjauh. Kita, jarak itu, harapan padam itu. Kita, yang mati satu-demi-satu. Kita, aku dan kau yang tak pernah ‘memilih’ bertemu.
Terpaksa, kah?
Tidak, sayangku. Demikian jelas aku mengutarakan betapa merananya nyaliku menciut ketika menatap bulat cokelat warna matamu. Demikian itu pula, sedetikpun aku ribut menahan untuk terjebak dengan keruwetan merindukanmu. Tidak sayangku, maafkan aku pula yang cuma menggapai dingin malam sementara satu-dua-kali kau bilang rindu dengan banal. Sebodoh itu?
Mereka bilang,
Kita bernama jarak. Kita bersuap derita, ketika kita membilang cinta. Mereka bilang selama ini kita salah, terlalu bodoh menjaring harapan, terlalu cepat menyimpulkan tali merah. Sayangku, jika aku berkesempatan menuduh dunia, maka mimbar podium paling ujung akan kutebas demi namamu..
“Kita memang orang-orang yang patah,” kau bersikeras.
Lalu, tak pernah ku lihat lagi warna bola cokelat seperti milikmu.
Comments
Post a Comment