Skip to main content

#3

Mari bertemu.

Aku terus bergerak seiring keinginanku menjauh dari segala tentangmu. Yang ku ingat, aku harus lupa walau manisnya sampai ingin membuatku selalu gosok gigi. Aku bertekad, kita tak akan pernah bertemu lagi. Aku ingin lupa, sempat tak sempat. Setiap memori tentangmu menerobos, dalam lamunanku, di keseharianku, rasanya jantungku ikut tersayat sembilu.

Perih, bisa kau bilang begitu.

Bahkan bertahunan ini, aku mulai berhasil menyingkirkanmu. Dari sedikit demi sedikit membuka diri pada orang yang baru, hingga aku mengambil keputusan terbesar agar bisa menjauh. Ya, aku mengikatkan diri padanya agar memorimu semakin usang, keropos dan berkarat.

Semua benih yang kita pernah semai, pernah sirami, dan terkadang layu. Aku berkeras pada keinginanku, aku harus membabat dengan gergaji berdarah dinginku. Aku ingin menyaksikan  reranting, dahan, daun, bahkan pucuk tunas yang baru tumbuh tertebang habis. Lalu, aku akan senyum dengan kemenanganku menjauhimu.

Tapi, mengapa?

Aku lupa aku tak mencerabut sisa akarmu. Aku lupa dengan sedikit hujan dan tanah yang terkuak, benih itu menerobos. Mulai kembali, mulai mencengkeram dengan daya yang lebih kuat. Mengapa gergajiku tak cukup kuat? Aku baru tersadar ketika di permukaan tanahku yang patah, ada semi yang cantik tentang memori kita.

Setiap malam, aku memandanginya. Bagaimana kalau aku mencabutnya? Mana gergajiku yang perkasa?

Aku injak, dia tak lemah. Aku kubur dengan tanah, ia menyembul keluar. Apa ini?

Kini, aku tahu ternyata patahan tanahku dan hujan yang menyuburkannya. Jadi aku tak lagi bertekad untuk menebangnya, karena aku tahu dia akan semakin kuat. Aku mengambil tudung hitamku yang tersamar kasat mata.

Pelan-pelan, tudungku menutupi memori kita. Membiarkan ia tumbuh  pelan di baliknya. Pelan-pelan, aku melemah. Dan di suatu titik, nadiku tak lagi ada.

Mari bertemu, di balik tudung hitam.
Di balik mimpi-mimpi malam ku yang dingin, menemui lubang patah hati ku yang makin luas.
Mari bertemu, di balik tudung yang pekat.
Sejenak, aku ingin melepas rinduku pada tunas kecil kita.

Kelak akan aku semogakan, tunas itu dicukupkan. Aku tulus berdoa, di balik tudung mimpi itu, biarlah kita berdua saling tersenyum dan bahagia -- dengan patah hati yang sama besarnya.

Comments

Popular posts from this blog

Bumi Surabaya: Resort Hijau di Tengah Terik Kota

Saya kira, setelah menikah dan punya satu bocah kecil yang lucu, saya akan susah untuk kembali ke kebiasaan dahulu. Mungkin, dahulu saya kuat banget kali ya naik gunung, mendaki, bawa ransel. Tetapi seiring usia bertambah, kekuatan yang tak lagi sama apalagi stamina juga berbeda, liburannya dialihkan ke bentuk lain yang beda. Terutama semenjak pandemi, pilihan berwisata juga semakin sempit. Beberapa sektor ekonomi terpuruk dan jatuh, terutama sektor wisata dan transportasi. Tahun 2020 akhir, salah satu platform agen perjalanan berlogo burung biru mengadakan diskon hotel besar-besaran. Tentu saya ikutan, walaupun besaran diskonnya tak begitu besar banget seperti teman-teman lain yang ikut berburu, saya cukup puas. Jadilah, staycation pertama saya bersama suami dan bocah. Tujuannya: BUMI SURABAYA CITY HOTEL. Mimpi menginap di hotel bintang 5 saja nggak pernah, nah ini pertama kali nginap disana tentu saja kagok. Apalagi kamarnya ada bathubnya, kayak di film-film orang kaya :D Suasana dek...

Titik.

Titik. Inilah akhir dari kita. Ujung dari segalanya. Muara dari segala keluh kesah. Titik. Yakinlah, ini semua sudah berhenti. Sudah selesai, tak ada lagi. Apa lagi yang harus ada? Atau diada-adakan? Titik. Ini sudah terlanjur basah. Mau bagaimana? Semua kini usang. Pemberhentian. Ya, lanjut, tak berjalan. Titik. Tak ada lagi, antara kamu dan aku. Tak ada lagi kita. Tak ada lagi cerita. Duka? Bahagia? Tak ada... Apalagi yang harus kita perbuat selain 'titik'? Selain berhenti pada ujung segalanya. Bukan ujung bahagia memang, tapi ini sudah jalannya. Jalan terbaik untuk kita. Ah, titik.

J&T Express, Pemain Baru yang Gak Main-main

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima cukup uang untuk membeli handphone sebagai ganti Sony Xperia L saya yang sudah cukup uzur. Berbagai masalah saya alami mulai dari case yang sudah pecah, lemot, dan yang paling menyebalkan adalah sering bootloop sendiri tanpa alasan ketika dihidupkan. Pernah 2 hari saya hidup tanpa handphone, rasanya aneh mengingat saya sangat aktif menggunakannya. Akhirnya, saya memutuskan membeli Xiaomi Redmi Note 3 Pro sebagai gantinya. Karena di Surabaya ada beberapa mall yang khusus IT dan hp, jadilah saya blusukan. Awal blusukan cuma untuk survey harga. Ketika sudah mantap untuk membeli, saya kembali lagi. Lha kok, harganya jadi naik sekitar 500ribu rupiah dari harga standarnya. Sempat bingung mau beli yang memang naik, atau pesan saja dari rekan pacar saya yang ada di Trenggalek. Kebetulan, harganya masih cukup masuk akal dan tidak dipatok tarif super tinggi kayak yang di Surabaya. Jadilah saya memesan. Selayaknya orang yang beli online, otomatis harus m...