Mari bertemu.
Aku terus bergerak seiring keinginanku menjauh dari segala tentangmu. Yang ku ingat, aku harus lupa walau manisnya sampai ingin membuatku selalu gosok gigi. Aku bertekad, kita tak akan pernah bertemu lagi. Aku ingin lupa, sempat tak sempat. Setiap memori tentangmu menerobos, dalam lamunanku, di keseharianku, rasanya jantungku ikut tersayat sembilu.
Perih, bisa kau bilang begitu.
Bahkan bertahunan ini, aku mulai berhasil menyingkirkanmu. Dari sedikit demi sedikit membuka diri pada orang yang baru, hingga aku mengambil keputusan terbesar agar bisa menjauh. Ya, aku mengikatkan diri padanya agar memorimu semakin usang, keropos dan berkarat.
Semua benih yang kita pernah semai, pernah sirami, dan terkadang layu. Aku berkeras pada keinginanku, aku harus membabat dengan gergaji berdarah dinginku. Aku ingin menyaksikan reranting, dahan, daun, bahkan pucuk tunas yang baru tumbuh tertebang habis. Lalu, aku akan senyum dengan kemenanganku menjauhimu.
Tapi, mengapa?
Aku lupa aku tak mencerabut sisa akarmu. Aku lupa dengan sedikit hujan dan tanah yang terkuak, benih itu menerobos. Mulai kembali, mulai mencengkeram dengan daya yang lebih kuat. Mengapa gergajiku tak cukup kuat? Aku baru tersadar ketika di permukaan tanahku yang patah, ada semi yang cantik tentang memori kita.
Setiap malam, aku memandanginya. Bagaimana kalau aku mencabutnya? Mana gergajiku yang perkasa?
Aku injak, dia tak lemah. Aku kubur dengan tanah, ia menyembul keluar. Apa ini?
Kini, aku tahu ternyata patahan tanahku dan hujan yang menyuburkannya. Jadi aku tak lagi bertekad untuk menebangnya, karena aku tahu dia akan semakin kuat. Aku mengambil tudung hitamku yang tersamar kasat mata.
Pelan-pelan, tudungku menutupi memori kita. Membiarkan ia tumbuh pelan di baliknya. Pelan-pelan, aku melemah. Dan di suatu titik, nadiku tak lagi ada.
Mari bertemu, di balik tudung hitam.
Di balik mimpi-mimpi malam ku yang dingin, menemui lubang patah hati ku yang makin luas.
Mari bertemu, di balik tudung yang pekat.
Sejenak, aku ingin melepas rinduku pada tunas kecil kita.
Kelak akan aku semogakan, tunas itu dicukupkan. Aku tulus berdoa, di balik tudung mimpi itu, biarlah kita berdua saling tersenyum dan bahagia -- dengan patah hati yang sama besarnya.
Comments
Post a Comment