Sore ini, saat saya sedang menemani teman untuk mengerjakan tugas bersama, iseng saya membuka laman jejaring sosial. Kebetulan sekali, di tempat saya mengerjakan tugas ini, kecepatan internernya tergolong level 'ndewo'. Ibarat keripik pedas Ma'icih, levelnya sudah level sepuluh lebih. Hehehe..
Sembari membuka laman jejaring sosial, saya juga melakukan beberapa aktivitas. Ya, aktivitas yang umum dilakukan orang yang sedang berselancar di dunia maya jejaring sosial, memberi komentas, menyukai foto, atau hanya sekedar membaca status-status yang meluncur deras di timeline.
Lalu, ada beberapa hal yang membuat saya tergelitik.
Rata-rata, foto para wanita yang dipajang di laman profil jejaring sosial tersebut, mengadopsi gaya yang hampir sama. Foto terbaik, dengan pencahayaan terbaik, wajah mulus anti jerawat, senyum yang manis dan lebar, atau bisa saja dengan baju yang terbaik dan beraneka ragam.
Sejenak, saya mempertanyakan dalam hati. Jika standar kecantikan seperti ini, seperti apa kecantikan yang sejati itu, ya?
Memang, tak ada standarisasi kecantikan tertentu menurut fisik. Tapi, ketika saya kembali merenungkan, dan berbalik ke beberapa waktu yang lalu, saya tertegun. Ketika saya menyambangi Ranu Kumbolo beberapa waktu silam (ya, akan saya buat catpernya. dan catper-catper yang lain. janji ^_^v), saya bolak-balik bertemu dengan pendaki wanita. Bayangkan, ketika saya menggendong carrier yang hanya beratnya segitu saja, dan hanya berjalan menempuh 11,5 km, saya sedikit banyak mengeluh. Bagaimana mereka mampu menggendong carrier itu, dengan menempuh jarak lebih dari 25 km? Tak hanya berjalan saja, yang namanya gunung, tentu penuh dengan tanjakan-tanjakan yang tiada tara.
Terus terang, di sini saya kagum. Kagum sekali pada mereka, wanita-wanita yang mau bersusah payah keluar dari zona nyaman, menempuh kehidupan alam yang sebenarnya lekat dengan imej lelaki perkasa. Terlebih, mereka seakan tak menunjukkan rasa mengeluh atas kelelahan yang mereka alami. Sedangkan saya, sedikit banyak mengeluh tentang hidup..
Mungkin benar, bahwa mendaki gunung itu sendiri adalah proses dari miniatur kecil kehidupan..
Sedikit membocorkan, ketika di gunung, para pendaki wanita itu benar-benar kelihatan menawan. Dan tangguh, tentu saja :)
Ketika kembali tersadar ke dunia nyata dari lamunan saya, saya melihat-lihat lagi foto profil timeline di laman beranda jejaring sosial. Saya rasa, kecantikan atau menawan itu tak bisa dinilai dari sekadar fisik yang sempurna bak model kelas internasional, tetapi dari sisi ketangguhan yang justru hanya bisa dihayati..
mendaki itu adalah usaha ku mendekat pada Tuhan. semoga Dia lebih bisa melihat usahaku menggapai langitnya. itu sebabnya aku mendaki.
ReplyDeleteniat yang indah sekali :)
DeletePerkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
ReplyDeleteJika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.
Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)