Skip to main content

Bertanya Pada Diri: Suka dan Tak Suka

Merenung. Itu hal yang pertama kali saya lakukan. Mempertanyakan apa hal yang saya suka dan tidak suka? Di kelas, saya menjawab, dekat dengan orang tua. Iya, saya akui saya jauh dari orang tua. Dan, merindukan saat-saat kembali bersama mereka.

Tapi, ada pula hal lain yang lebih membahagiakan. Berada di alam, di antara pohon dan udara pegunungan. Menjelajahi makna hidup yang tiada batas. Menjejakkan kaki di tanah berlumpur sambil menggendong ‘perabotan’ yang luar biasa berat.

Ya, ternyata saya menyukai perjalanan dan pembelajaran. Ketika berjalan, saya sedikit banyak merenung. Meresapi apa yang telah saya lakukan selama perjalanan berlangsung. Ke gunung, itu yang saya lakukan. Berjalan di medan yang menanjak, terkadang landai, terkadang menurun.. Kadang lelah, mengeluh, berkeringat, dan lain sebagainya. Dengan satu tujuan yang terutama: puncak.

Biasanya, ketika sampai di puncak, saat matahari muncul dari ufuk timur. Tiba-tiba, rasanya hati ini terharu. Begitu banyak kejadian pada saat perjalanan. Begitu banyak rintangan. Iya, perjalanan di gunung terasa seperti sebuah miniatur dari kehidupan. Untuk mencapai puncaknya, kita harus berjalan lebih jauh. Kita harus berusaha lebih keras untuk mendaki di atas bebatuan terjal. Begitupun hidup, kita harus mampu untuk sabar demi hasil yang kita inginkan.

Saat turun, bukan berarti makna akan miniatur kehidupan itu hilang. Saat turun, tujuan utama saya adalah pulang. Pulang ke rumah yang nyaman, bertemu dengan orang-orang. Begitu juga hidup, pada akhirnya kita akan pulang. Pulang ke sebuah rumah milik kita sendiri.

Ketika diajukan pertanyaan tentang hal yang tak disukai, ini pertanyaan yang lebih sulit daripada menjawab hal yang saya sukai. Hal yang tidak saya sukai adalah tekanan. Saya mempunyai perspektif atas diri saya sendiri, jadi saya berhak melakukan hal yang saya suka tanpa mengabaikan kewajiban yang saya miliki. Saya tak suka dipaksa, bagi saya pemaksaan adalah hal yang sangat tidak manusiawi. Humanistik juga menolak pemaksaan, bukan?

Comments

Popular posts from this blog

Bumi Surabaya: Resort Hijau di Tengah Terik Kota

Saya kira, setelah menikah dan punya satu bocah kecil yang lucu, saya akan susah untuk kembali ke kebiasaan dahulu. Mungkin, dahulu saya kuat banget kali ya naik gunung, mendaki, bawa ransel. Tetapi seiring usia bertambah, kekuatan yang tak lagi sama apalagi stamina juga berbeda, liburannya dialihkan ke bentuk lain yang beda. Terutama semenjak pandemi, pilihan berwisata juga semakin sempit. Beberapa sektor ekonomi terpuruk dan jatuh, terutama sektor wisata dan transportasi. Tahun 2020 akhir, salah satu platform agen perjalanan berlogo burung biru mengadakan diskon hotel besar-besaran. Tentu saya ikutan, walaupun besaran diskonnya tak begitu besar banget seperti teman-teman lain yang ikut berburu, saya cukup puas. Jadilah, staycation pertama saya bersama suami dan bocah. Tujuannya: BUMI SURABAYA CITY HOTEL. Mimpi menginap di hotel bintang 5 saja nggak pernah, nah ini pertama kali nginap disana tentu saja kagok. Apalagi kamarnya ada bathubnya, kayak di film-film orang kaya :D Suasana dek...

Titik.

Titik. Inilah akhir dari kita. Ujung dari segalanya. Muara dari segala keluh kesah. Titik. Yakinlah, ini semua sudah berhenti. Sudah selesai, tak ada lagi. Apa lagi yang harus ada? Atau diada-adakan? Titik. Ini sudah terlanjur basah. Mau bagaimana? Semua kini usang. Pemberhentian. Ya, lanjut, tak berjalan. Titik. Tak ada lagi, antara kamu dan aku. Tak ada lagi kita. Tak ada lagi cerita. Duka? Bahagia? Tak ada... Apalagi yang harus kita perbuat selain 'titik'? Selain berhenti pada ujung segalanya. Bukan ujung bahagia memang, tapi ini sudah jalannya. Jalan terbaik untuk kita. Ah, titik.

J&T Express, Pemain Baru yang Gak Main-main

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima cukup uang untuk membeli handphone sebagai ganti Sony Xperia L saya yang sudah cukup uzur. Berbagai masalah saya alami mulai dari case yang sudah pecah, lemot, dan yang paling menyebalkan adalah sering bootloop sendiri tanpa alasan ketika dihidupkan. Pernah 2 hari saya hidup tanpa handphone, rasanya aneh mengingat saya sangat aktif menggunakannya. Akhirnya, saya memutuskan membeli Xiaomi Redmi Note 3 Pro sebagai gantinya. Karena di Surabaya ada beberapa mall yang khusus IT dan hp, jadilah saya blusukan. Awal blusukan cuma untuk survey harga. Ketika sudah mantap untuk membeli, saya kembali lagi. Lha kok, harganya jadi naik sekitar 500ribu rupiah dari harga standarnya. Sempat bingung mau beli yang memang naik, atau pesan saja dari rekan pacar saya yang ada di Trenggalek. Kebetulan, harganya masih cukup masuk akal dan tidak dipatok tarif super tinggi kayak yang di Surabaya. Jadilah saya memesan. Selayaknya orang yang beli online, otomatis harus m...