Merenung. Itu hal yang pertama kali saya lakukan. Mempertanyakan apa hal yang saya suka dan tidak suka? Di kelas, saya menjawab, dekat dengan orang tua. Iya, saya akui saya jauh dari orang tua. Dan, merindukan saat-saat kembali bersama mereka.
Tapi, ada pula hal lain yang lebih membahagiakan. Berada di alam, di antara pohon dan udara pegunungan. Menjelajahi makna hidup yang tiada batas. Menjejakkan kaki di tanah berlumpur sambil menggendong ‘perabotan’ yang luar biasa berat.
Ya, ternyata saya menyukai perjalanan dan pembelajaran. Ketika berjalan, saya sedikit banyak merenung. Meresapi apa yang telah saya lakukan selama perjalanan berlangsung. Ke gunung, itu yang saya lakukan. Berjalan di medan yang menanjak, terkadang landai, terkadang menurun.. Kadang lelah, mengeluh, berkeringat, dan lain sebagainya. Dengan satu tujuan yang terutama: puncak.
Biasanya, ketika sampai di puncak, saat matahari muncul dari ufuk timur. Tiba-tiba, rasanya hati ini terharu. Begitu banyak kejadian pada saat perjalanan. Begitu banyak rintangan. Iya, perjalanan di gunung terasa seperti sebuah miniatur dari kehidupan. Untuk mencapai puncaknya, kita harus berjalan lebih jauh. Kita harus berusaha lebih keras untuk mendaki di atas bebatuan terjal. Begitupun hidup, kita harus mampu untuk sabar demi hasil yang kita inginkan.
Saat turun, bukan berarti makna akan miniatur kehidupan itu hilang. Saat turun, tujuan utama saya adalah pulang. Pulang ke rumah yang nyaman, bertemu dengan orang-orang. Begitu juga hidup, pada akhirnya kita akan pulang. Pulang ke sebuah rumah milik kita sendiri.
Ketika diajukan pertanyaan tentang hal yang tak disukai, ini pertanyaan yang lebih sulit daripada menjawab hal yang saya sukai. Hal yang tidak saya sukai adalah tekanan. Saya mempunyai perspektif atas diri saya sendiri, jadi saya berhak melakukan hal yang saya suka tanpa mengabaikan kewajiban yang saya miliki. Saya tak suka dipaksa, bagi saya pemaksaan adalah hal yang sangat tidak manusiawi. Humanistik juga menolak pemaksaan, bukan?
Comments
Post a Comment