Skip to main content

Mengawali Humanistik

Apa itu “human”? Apa itu “humanistik”?

Pertanyaan-pertanyaan di atas terus mendengung selama perkuliahan Psikologi Humanistik pada Senin (10/03) kemarin. Penjelasan dosen tak membuat saya cukup puas. Bagi saya, bapak dosen hanya menjelaskan sekelumit, tapi tak memberikan pemahaman yang menyeluruh. Lalu, mulailah saya browsing-browsing dan bertanya pada mbah Google apa itu “humanistik”.

Yap, mungkin cara saya salah. Harusnya saya membaca buku saja terlebih dahulu, daripada memilih berselancar pada laman-laman di dunia maya mengenai pertanyaan saya. Sempat saya copy-paste beberapa laman yang memberikan penjelasan, tapi tetap saja kurang menarik. Saya hanya membaca selintas saja. Yap, akhirnya saya memutuskan membuka buku elektronik yang diberikan cuma-cuma lewat psyche.. Hehehe.

Pertama-tama, pertanyaan dasar yang saya ingin tahu adalah: apa itu humanistik? Ternyata humanistik merupakan salah satu aliran pada ilmu psikologi yang menekankan pada “kebebasan”. Humanistik sangat menghormati kebebasan manusia, menjadikan manusia sebagai obyek yang berkehendak. Humanistik menjunjung tinggi segala martabat yang ada pada diri manusia. Kehormatan, kehendak, martabat, memang menjadi bagian tak terpisahkan dari humanistik.

Humanistik menawarkan perspektif yang berbeda dari aliran-aliran yang lain. Dalam psikologi, humanistik menawarkan perspektif pandangan terhadap manusia yang ‘sehat’. Manusia tidak dipandang mempunyai penyakit-penyakit mental (mental illness), tetapi sebagai manusia yang mempunyai kesadaran atas apa yang dikehendakinya. Dari penjelasan di atas, dapat ditarik satu kesimpulan: bahwa humanistik adalah kebebasan yang membebaskan manusia untuk bertindak penuh atas keputusannya berdasarkan kesadaran.

Kelahiran dan Perkembangan
Abraham Maslow adalah orang yang bertanggungjawab atas munculnya aliran humanistik, terutama pada bidang psikologi. Maslow, dengan hierarki Maslow-nya, berhasil merobek stigma psikologi yang memandang bahwa manusia merupakan obyek yang ‘sakit’. Bagi Maslow, setiap manusia punya kebebasan untuk memandang ‘diri’ dan ‘aktualisasi’-nya bagi kehidupan. Pada masa itu, Maslow memandang bahwa manusia adalah suatu obyek yang penuh kreatif, sehat, dan selalu mencari ‘tingkat’ yang lebih tinggi.

Lain Maslow, lain pula Carl Rogers. Rogers mengemukakan Client-centered Therapy, dimana humanistik diterapkan pada setting klinisi. Pada Client-centered Therapy, dua orang manusia yang saling memiliki keterikatan secara emosional, akan lebih mudah dalam mengatasi sebuah permasalahan. Subyek yang bermasalah secara emosional, akan dibantu dengan terapis untuk menemukan apa yang terbaik baginya. Dalam hal ini, terapis harus menunjukkan empatinya agar klien punya pandangan positif atas dirinya sendiri.

Dewasa ini, banyak hal telah berubah seiring perkembangan jaman. Psikologi humanistik pun juga mengalami perkembangan. Tugas seorang yang mendalami ilmu psikologi adalah mencari manusia yang mempunyai potensi dan membuat manusia mendapatkan makna transendental bagi mereka.

Comments

Popular posts from this blog

Bumi Surabaya: Resort Hijau di Tengah Terik Kota

Saya kira, setelah menikah dan punya satu bocah kecil yang lucu, saya akan susah untuk kembali ke kebiasaan dahulu. Mungkin, dahulu saya kuat banget kali ya naik gunung, mendaki, bawa ransel. Tetapi seiring usia bertambah, kekuatan yang tak lagi sama apalagi stamina juga berbeda, liburannya dialihkan ke bentuk lain yang beda. Terutama semenjak pandemi, pilihan berwisata juga semakin sempit. Beberapa sektor ekonomi terpuruk dan jatuh, terutama sektor wisata dan transportasi. Tahun 2020 akhir, salah satu platform agen perjalanan berlogo burung biru mengadakan diskon hotel besar-besaran. Tentu saya ikutan, walaupun besaran diskonnya tak begitu besar banget seperti teman-teman lain yang ikut berburu, saya cukup puas. Jadilah, staycation pertama saya bersama suami dan bocah. Tujuannya: BUMI SURABAYA CITY HOTEL. Mimpi menginap di hotel bintang 5 saja nggak pernah, nah ini pertama kali nginap disana tentu saja kagok. Apalagi kamarnya ada bathubnya, kayak di film-film orang kaya :D Suasana dek...

Titik.

Titik. Inilah akhir dari kita. Ujung dari segalanya. Muara dari segala keluh kesah. Titik. Yakinlah, ini semua sudah berhenti. Sudah selesai, tak ada lagi. Apa lagi yang harus ada? Atau diada-adakan? Titik. Ini sudah terlanjur basah. Mau bagaimana? Semua kini usang. Pemberhentian. Ya, lanjut, tak berjalan. Titik. Tak ada lagi, antara kamu dan aku. Tak ada lagi kita. Tak ada lagi cerita. Duka? Bahagia? Tak ada... Apalagi yang harus kita perbuat selain 'titik'? Selain berhenti pada ujung segalanya. Bukan ujung bahagia memang, tapi ini sudah jalannya. Jalan terbaik untuk kita. Ah, titik.

J&T Express, Pemain Baru yang Gak Main-main

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima cukup uang untuk membeli handphone sebagai ganti Sony Xperia L saya yang sudah cukup uzur. Berbagai masalah saya alami mulai dari case yang sudah pecah, lemot, dan yang paling menyebalkan adalah sering bootloop sendiri tanpa alasan ketika dihidupkan. Pernah 2 hari saya hidup tanpa handphone, rasanya aneh mengingat saya sangat aktif menggunakannya. Akhirnya, saya memutuskan membeli Xiaomi Redmi Note 3 Pro sebagai gantinya. Karena di Surabaya ada beberapa mall yang khusus IT dan hp, jadilah saya blusukan. Awal blusukan cuma untuk survey harga. Ketika sudah mantap untuk membeli, saya kembali lagi. Lha kok, harganya jadi naik sekitar 500ribu rupiah dari harga standarnya. Sempat bingung mau beli yang memang naik, atau pesan saja dari rekan pacar saya yang ada di Trenggalek. Kebetulan, harganya masih cukup masuk akal dan tidak dipatok tarif super tinggi kayak yang di Surabaya. Jadilah saya memesan. Selayaknya orang yang beli online, otomatis harus m...