Skip to main content

Posts

Showing posts from 2015

#2: Untuk Diam

Untuk diam yang tak pernah menjadi paragraf. Kau menyejajari langkahku sepanjang senja itu. Di garis-garis tipis horizon yang memerah ufuknya, aku bersitatap denganmu yang kelihatan tegang. Garis-garis urat di leher, dahimu, menandakan kau menyimpan berjuta huruf, tanda baca, yang siap meledak sewaktu-waktu aku membuka mulut. Kau makin menyejajari langkahku cepat-cepat, seolah aku akan tertinggal jauh di belakangmu. Seolah langkahmu yang lebar akan menjegal bekas tapak yang kuinjak dalam-dalam. Sesekali kau menatap cakrawala, langit merah berkelebat dengan camar-camar yang memutar arah pulang. Lalu beberapa detik lagi, kau menoleh padaku, menatapku cukup lama hingga kau menatap lagi langit yang berubah-ubah kelam. Begitu seterusnya, hingga aku berhenti untuk mengikuti langkahmu yang makin pelan. Entah, pemutar musik mana lagi yang menggaungkan Tame Impala – Feels Like We Only Go Backwards, lagu yang kau sebut lagu kenegaraan milik kita. Sejurus kemudian, pemutar musik bi...

#1

“Kita adalah orang-orang yang patah,” ujarmu lirih, suatu ketika. Di sore, kau berbilang senyum getir denganku. Merajuk tak henti, menatapku dengan dua mata yang menyimpan harapan cemas. Kau tentu tahu, sayang, aku bukan orang yang tak tanggap isyarat dari apa yang kau sembunyikan. Hanya saja, terlampau cepat aku menceramahimu tentang rinduku yang berdebam-debam. Dan kau, tetap melirih dan berucap. “Apakah kita sekumpulan jalang berhidung belang?” Aku, sekali lagi, menatap rutukan daun-daun kering yang terbawa angin. Mereka lembut, tapi memerah pipiku sebab usahamu yang makin menjauh. Kita, jarak itu, harapan padam itu. Kita, yang mati satu-demi-satu. Kita, aku dan kau yang tak pernah ‘memilih’ bertemu. Terpaksa, kah? Tidak, sayangku. Demikian jelas aku mengutarakan betapa merananya nyaliku menciut ketika menatap bulat cokelat warna matamu. Demikian itu pula, sedetikpun aku ribut menahan untuk terjebak dengan keruwetan merindukanmu. Tidak sayangku, maafkan aku pula yang cuma menggap...

Di Balik Mutilasi Tato Macan: Sebuah Profil Kriminal, Intervensi dan Koreksi dari Perspektif Psikologi Forensik

Pada 29 September 2008, seorang kenek di Bus Mayasari Bhakti P-64 jurusan Kalideres-Pulogadung, Jakarta, dikejutkan dengan temuan potongan daging dan tubuh manusia dibungkus dalam tas kresek berwarna merah. Di dalamnya tidak ditemukan bagian kepala, bagian jari-jemari tangan, betis, kedua paha serta tulang iga. Bagian tubuh tersebut tidak disayat, melainkan ditemukan terpotong dan sudah bersih dari darah (“Polisi Sebar Gambar Tato Korban Mutilasi Hari Ini”, Kompas, 2008). Temuan ini kemudian ditindaklanjuti oleh Polisi sebagai suatu kasus mutilasi yang perlu mendapat perhatian.  Dari penyelidikan hasil otopsi korban, didapat ciri fisik berupa jenis kelamin yaitu lelaki dewasa, bergolongan darah B, berkulit sawo matang, berukuran kaki 40 cm serta tato macan yang hampir pudar di lengan kanan atas korban (“Kasus Mutilasi, Polisi Temukan Ciri Terbaru Korban”, Indosiar, 2008). Sayangnya, penyelidikan atas kasus ini mengalami kendala dimana tidak ditemukan sidik jari yang dapat meng...

Memasaklah dan Jangan Lupa Bahagia!

Halo! Sekian lama nggak main blog, ya ada baiknya kita menulis kembali sebagai latihan bahwa kita mengasah kemampuan menulis kita. Yaa, biar nggak melulu menulis skripsi aja kan, ya? *dilempar panci*. Nah, setelah sekian lama kita tidak bersua, sekarang saya sedang ingin bercinta menulis sesuatu yang ringan, santai dan mudah dicerna pembaca. Berkaitan dengan hobi saya akhir-akhir ini juga, sih. Apa hayo? Yak betul, MEMASAK! Memasak, pada umumnya di Indonesia dianggap sebagai sebuah kodrat wanita. Eits jangan salah, sekarang banyak juga lelaki-lelaki yang profesional dalam bidang memasak. Ganteng pula. Apalagi kalau suamiable *duh* *kecepian* *menunggu jodoh* *abaikan*. Baiklah, sekarang saya bukan berbagi bagaimana masak memasak di dapur, sebab di dapur itu wesbiyasa walaupun dapur itu adalah tempat khusus yang diciptakan untuk memasak. Bagaimana kalau memasak di gunung? Apalagi, memasak ketika pendakian? Ribet? Nggak kok! Asyiknya masak di gunung, di pantai, dimanapun di...

Menjauh.

Suatu ketika saya bermimpi dan sampai sekarang, mimpi itu masih sangat terngiang di kepala saya. Saya bahkan ingat detail-detail kecilnya, semua perasaan dan rasa sedihnya. Tidak, ini bukan mengenai asmara. Bahkan hal yang menurut saya tidak pernah saya rasakan bagaimana abadi rasanya. Di mimpi itu, saya berada di sebuah perpustakaan.. atau ruang baca, entahlah. saya hanya ingat detail-detail di tempat itu seperti meja panjang yang saling berjejeran. Kursi-kursinya tinggi dan panjang tanpa sandaran, berjumlah sedikitnya ada enam per meja. Di situ, duduk saya bersama teman-teman yang saya kenal. Salah satu mereka, sebut inisialnya D, berkata pada saya bahwa saya setidaknya harus berkeliling Surabaya dengan menggunakan bus. Entah apa alasannya, tapi saya turuti saja. Setelah itu saya berkeliling dengan bus yang pemberhentiannya tepat di pintu depan perpustakaan. Hari itu hujan. Gerimis dan mendung, tidak tampak senja di horizon meski hari menjelang sore. Singkatnya, saya berkeliling...