Skip to main content

Posts

#TonerSejutaUmat : Azarine Mild Purifying Toner

Ada yang butuh rekomendasi toner? 22 Februari 2022, Azarine salah satu brand lokal yang sebelumnya hits dengan sunscreennya. meluncurkan toner yang tiap series asik banget fungsinya. Setiap series sepertinya diformulasikan dan disesuaikan dengan kondisi khusus tiap kulit yang pastinya berbeda-beda. Karena kulit saya merupakan kulit yang sensitif dan berminyak, jadi saya pilih toner Blemish Care: Mild Purifying Toner ini. Packagingnya unik banget, jadi kita nggak perlu menumpahkan toner seperti pada umumnya. Di bagian atas, tinggal pencet dengan kapas beberapa kali dan cairan toner akan keluar membasahi kapas.  Selain toner hijau ini, ada beberapa seri toner lain dari Azarine yaitu: - Multi-acids Glowing Toner: Toner dengan vitamin C, yang ampuh banget bikin kulit glowing - Mild Purifying Toner:Toner andalan untuk kontrol minyak berlebih dan hempaskan jerawat - Daily Beginner Exfoliating Toner: Toner eksfoliasi paling nyaman, tanpa membuat iritasi untuk angkat sel kulit mati - Moist...
Recent posts

Bumi Surabaya: Resort Hijau di Tengah Terik Kota

Saya kira, setelah menikah dan punya satu bocah kecil yang lucu, saya akan susah untuk kembali ke kebiasaan dahulu. Mungkin, dahulu saya kuat banget kali ya naik gunung, mendaki, bawa ransel. Tetapi seiring usia bertambah, kekuatan yang tak lagi sama apalagi stamina juga berbeda, liburannya dialihkan ke bentuk lain yang beda. Terutama semenjak pandemi, pilihan berwisata juga semakin sempit. Beberapa sektor ekonomi terpuruk dan jatuh, terutama sektor wisata dan transportasi. Tahun 2020 akhir, salah satu platform agen perjalanan berlogo burung biru mengadakan diskon hotel besar-besaran. Tentu saya ikutan, walaupun besaran diskonnya tak begitu besar banget seperti teman-teman lain yang ikut berburu, saya cukup puas. Jadilah, staycation pertama saya bersama suami dan bocah. Tujuannya: BUMI SURABAYA CITY HOTEL. Mimpi menginap di hotel bintang 5 saja nggak pernah, nah ini pertama kali nginap disana tentu saja kagok. Apalagi kamarnya ada bathubnya, kayak di film-film orang kaya :D Suasana dek...

#3

Mari bertemu. Aku terus bergerak seiring keinginanku menjauh dari segala tentangmu. Yang ku ingat, aku harus lupa walau manisnya sampai ingin membuatku selalu gosok gigi. Aku bertekad, kita tak akan pernah bertemu lagi. Aku ingin lupa, sempat tak sempat. Setiap memori tentangmu menerobos, dalam lamunanku, di keseharianku, rasanya jantungku ikut tersayat sembilu. Perih, bisa kau bilang begitu. Bahkan bertahunan ini, aku mulai berhasil menyingkirkanmu. Dari sedikit demi sedikit membuka diri pada orang yang baru, hingga aku mengambil keputusan terbesar agar bisa menjauh. Ya, aku mengikatkan diri padanya agar memorimu semakin usang, keropos dan berkarat. Semua benih yang kita pernah semai, pernah sirami, dan terkadang layu. Aku berkeras pada keinginanku, aku harus membabat dengan gergaji berdarah dinginku. Aku ingin menyaksikan  reranting, dahan, daun, bahkan pucuk tunas yang baru tumbuh tertebang habis. Lalu, aku akan senyum dengan kemenanganku menjauhimu. Tapi, mengapa? Aku lup...

J&T Express, Pemain Baru yang Gak Main-main

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima cukup uang untuk membeli handphone sebagai ganti Sony Xperia L saya yang sudah cukup uzur. Berbagai masalah saya alami mulai dari case yang sudah pecah, lemot, dan yang paling menyebalkan adalah sering bootloop sendiri tanpa alasan ketika dihidupkan. Pernah 2 hari saya hidup tanpa handphone, rasanya aneh mengingat saya sangat aktif menggunakannya. Akhirnya, saya memutuskan membeli Xiaomi Redmi Note 3 Pro sebagai gantinya. Karena di Surabaya ada beberapa mall yang khusus IT dan hp, jadilah saya blusukan. Awal blusukan cuma untuk survey harga. Ketika sudah mantap untuk membeli, saya kembali lagi. Lha kok, harganya jadi naik sekitar 500ribu rupiah dari harga standarnya. Sempat bingung mau beli yang memang naik, atau pesan saja dari rekan pacar saya yang ada di Trenggalek. Kebetulan, harganya masih cukup masuk akal dan tidak dipatok tarif super tinggi kayak yang di Surabaya. Jadilah saya memesan. Selayaknya orang yang beli online, otomatis harus m...

#2: Untuk Diam

Untuk diam yang tak pernah menjadi paragraf. Kau menyejajari langkahku sepanjang senja itu. Di garis-garis tipis horizon yang memerah ufuknya, aku bersitatap denganmu yang kelihatan tegang. Garis-garis urat di leher, dahimu, menandakan kau menyimpan berjuta huruf, tanda baca, yang siap meledak sewaktu-waktu aku membuka mulut. Kau makin menyejajari langkahku cepat-cepat, seolah aku akan tertinggal jauh di belakangmu. Seolah langkahmu yang lebar akan menjegal bekas tapak yang kuinjak dalam-dalam. Sesekali kau menatap cakrawala, langit merah berkelebat dengan camar-camar yang memutar arah pulang. Lalu beberapa detik lagi, kau menoleh padaku, menatapku cukup lama hingga kau menatap lagi langit yang berubah-ubah kelam. Begitu seterusnya, hingga aku berhenti untuk mengikuti langkahmu yang makin pelan. Entah, pemutar musik mana lagi yang menggaungkan Tame Impala – Feels Like We Only Go Backwards, lagu yang kau sebut lagu kenegaraan milik kita. Sejurus kemudian, pemutar musik bi...

#1

“Kita adalah orang-orang yang patah,” ujarmu lirih, suatu ketika. Di sore, kau berbilang senyum getir denganku. Merajuk tak henti, menatapku dengan dua mata yang menyimpan harapan cemas. Kau tentu tahu, sayang, aku bukan orang yang tak tanggap isyarat dari apa yang kau sembunyikan. Hanya saja, terlampau cepat aku menceramahimu tentang rinduku yang berdebam-debam. Dan kau, tetap melirih dan berucap. “Apakah kita sekumpulan jalang berhidung belang?” Aku, sekali lagi, menatap rutukan daun-daun kering yang terbawa angin. Mereka lembut, tapi memerah pipiku sebab usahamu yang makin menjauh. Kita, jarak itu, harapan padam itu. Kita, yang mati satu-demi-satu. Kita, aku dan kau yang tak pernah ‘memilih’ bertemu. Terpaksa, kah? Tidak, sayangku. Demikian jelas aku mengutarakan betapa merananya nyaliku menciut ketika menatap bulat cokelat warna matamu. Demikian itu pula, sedetikpun aku ribut menahan untuk terjebak dengan keruwetan merindukanmu. Tidak sayangku, maafkan aku pula yang cuma menggap...

Di Balik Mutilasi Tato Macan: Sebuah Profil Kriminal, Intervensi dan Koreksi dari Perspektif Psikologi Forensik

Pada 29 September 2008, seorang kenek di Bus Mayasari Bhakti P-64 jurusan Kalideres-Pulogadung, Jakarta, dikejutkan dengan temuan potongan daging dan tubuh manusia dibungkus dalam tas kresek berwarna merah. Di dalamnya tidak ditemukan bagian kepala, bagian jari-jemari tangan, betis, kedua paha serta tulang iga. Bagian tubuh tersebut tidak disayat, melainkan ditemukan terpotong dan sudah bersih dari darah (“Polisi Sebar Gambar Tato Korban Mutilasi Hari Ini”, Kompas, 2008). Temuan ini kemudian ditindaklanjuti oleh Polisi sebagai suatu kasus mutilasi yang perlu mendapat perhatian.  Dari penyelidikan hasil otopsi korban, didapat ciri fisik berupa jenis kelamin yaitu lelaki dewasa, bergolongan darah B, berkulit sawo matang, berukuran kaki 40 cm serta tato macan yang hampir pudar di lengan kanan atas korban (“Kasus Mutilasi, Polisi Temukan Ciri Terbaru Korban”, Indosiar, 2008). Sayangnya, penyelidikan atas kasus ini mengalami kendala dimana tidak ditemukan sidik jari yang dapat meng...