Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2013

Dear, Kamu yang di sana

Dear kamu yang berada di sana,  Bagaimana kabarmu sekarang?  Apakah sudah nyaman dengan semuanya? Dengan hidupmu? Atau dengan pasangan hidupmu? Ah, kuharap hidup selalu memberikanmu kenyamanan. Kuharap, kamu selalu gembira dalam menatap hari-hari ke depanmu. Kuharap, kamu selalu tersenyum. Tertawa, tak peduli beberapa kesuraman sedang mengancam senyummu.  Dear kamu yang di sana,  Masihkah ingat padaku?  Seseorang yang mengucap janji begitu tulus dengan segenap hatiku. Seseorang yang begitu percaya akan pertautan jari kelingking kita. Seseorang yang kemudian bertumpah air mata di belakangmu, lalu bertegar sapa saat berhadapan denganmu. Lalu berjanji, akan selalu tersenyum, selalu tersenyum untukmu. Tak peduli, tak peduli kapanpun kamu menyakitiku. Tak peduli, seperti apa robeknya hati ini kalau kamu meninggalkanku.  Senja itu, ya, senja itu.  Ketika matahari semburat di ufuk barat. Ketika batas cakrawala sedang terlukis warna merah, k...

Belajar Sabar, Ikhlas, Syukur dari Kejadian Menyenangkan

Beberapa minggu terakhir ini, saya mengalami beberapa kejadian yang sebenarnya tidak janggal, cuma cukup luar biasa sebagai suatu pengalaman. Yah, rentetan kejadian ini tidak dikategorikan sebagai kejadian yang baik, sebenarnya. Bisa disebut sebagai kejadian yang cukup buruk bagi sebagian orang, yang sudah pernah mengalaminya, hehehe... Disini, saya tidak mencoba untuk curcol  atau curhat , atau mengeluh. Saya hanya akan sedikit bercerita, semoga bisa menjadi tadabbur untuk semuanya. Amin :) #Kejadian 1 Surabaya, 01 Februari 2013. Ini merupakan salah satu awal Februari yang luar biasa bagi saya.  Hari itu, saya menepati jadwal untuk bercerita melalui panggung Teater Boneka Fakultas Psikologi Universitas Airlangga di salah satu daerah di Surabaya. Sebenarnya, pada pagi hari sebelum saya berangkat, perasaan sudah tidak karuan enaknya. Feeling saya mengatakan, bahwa akan ada kejadian yang 'menyenangkan' hari ini. Pagi itu, bahkan saya melalaikan sholat Subuh saya (ja...

Modernitas: Menggeser Perbedaan, Menimbulkan Jenjang

Identitas manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa dianggap sebagai salah satu unsur yang tak penting. Manusia sebagai zoon politicon membutuhkan orang lain untuk hidup dan maju. Dari setiap zoon politicon itu, timbullah sebuah kognisi individu yang masing-masing mempunyai individual differences yang tak sama rata.  Kemauan manusia untuk maju, adalah salah satu keinginan untuk memerdekakan peradaban yang modern. Modern, dalam artian berkembang dan humanis. Setiap manusia mempunyai kesamaan hak yang tidak bisa diganggu gugat. Free will, begitu hak-hak manusia untuk bebas disebut. Manusia tak ingin diganggu gugat dalam hal memutuskan rasionalitas mereka. Rasionalitas inilah, cikal bakal bagaimana modernitas dibentuk dan digubah menjadi sistem yang sistematis, sebuah paradigma yang disebut ‘humanis’.  Agaknya, perlu ditelaah sebentar saja apa itu modernisme yang merupakan sumber dari pemahaman tentang modernitas. Modernisme, mengutip Zainal Abidin, yaitu semangat (elan...

Psikologi Gestalt dari Sudut Pandang Positivisme dan Penentangnya

Psikologi Gestalt adalah salah satu penyumbang penting dalam ilmu psikologi, meski gaungnya tidak terdengar terlalu keras seperti 3 mazhab besar psikologi yang lainnya, yaitu Psikoanalisa, Behaviorisme, dan Humanistik. Tetapi tidak dapat dipungkiri, bahwa Psikologi Gestalt berkontribusi pada pemikiran dunia psikologi saat ini. Franz Brentano, Max Wertheimer, Kurt Koffka, Wolfgang Kohler beserta sederet ilmuwan penganut Gestalt lainnya adalah para tokoh pemikiran Gestalt yang berhasil menjadikan aliran ini sebagai salah satu aliran penting dalam dunia psikologi.  Psikologi Gestalt dan Postivisme   Pada abad ke-19, positivisme lahir di Prancis, dari tangan seorang filsuf, Auguste Comte. Positivisme yang dibidani Comte mengungkapkan bahwa ilmu-ilmu pengetahuan adalah berdasarkan fakta keras yang terukur dan teramati (Adian, 2002). Positivisme menolak adanya unsur metafisik dan pengalaman batiniah yang tidak bisa ditangkap inderawi. Positivisme melembagakan doktrin kesatu...

Richard Marx - Now and Forever

Whenever I'm weary from the battles that rage in my head You make sense of madness when my sanity hangs by a thread I lose my way but still you seem to understand Now and forever I will be your man. Sometimes I just hold you Too caught up in me to see I'm holding a fortune that heaven has given to me I'll try to show you each and every way I can Now and forever I will be your man Now I can rest my worries and always be sure That I won't be alone anymore If I'd only known you were there all the time All this time Until the day the ocean doesn't touch the sand

Pulang

Ia pandangi lagi dinding rumah itu. Kusam. Debu tampak menempel di sana-sini. Menampakkan bahwa rumah itu jarang dibersihkan. Namun ia yakin masih ada penghuni di dalamnya. Dua-tiga langkah lagi ia akan sampai, dan mengetuk. Namun ada sesuatu yang memberati tulang kakinya untuk melangkah. Entah apa. Ia hanya berdiri, mematung... ** Ingar bingar sorot lampu dan dentuman musik pub malam itu tak menyorotkan niat Arash untuk meminum bersloki-sloki vodka yang ia pesan. Ia hanya ingin menghabiskan malamnya dengan vodka, minuman yang amat dicintainya. Tak ia pedulikan berpasang-pasang pasangan, baik hetero maupun homoseksual yang bercumbu malam itu. Baginya, itu sudah biasa. Yang penting, hanya ada vodka dan dirinya. “Joeeee... Hik. Satu sloki lagi... Hikk..” Sang bartender, manut akan perintah pelanggan setianya itu. Cekatan, sebentar saja minuman bening berbau menyengat itu rampung. “Loe udah mabuk, Ar...” “Biar... Hikk.. Gue pingin hanya ada gue dan vodka!! Hikk..” Ujar Arash, menyeringai....

BIP - Sampai Nanti

Kuingin selalu dengan mu Kemana saja kita berdua Seakan tiada terpisahkan Tapi tak mungkin di saat ini Saat ini Sekarang masih banyak mimpi Dan keinginan yang belum tercapai Biarlah rasa rindu ini Kita tunda tuk sementara Tak pernah kuragu padamu Atau curiga kau khianati aku Ku sangat percaya padamu Seperti juga kau percaya aku Pulanglah dulu ke rumahmu Bagi waktumu untuk yang lain Ku ingin kau hanya untukku Tapi tak mungkin saat ini Sampai nanti Sampai kita bertemu lagi - S R N

Saat Langit Memahami

Seolah langit tiba-tiba buncah. Seperti perasaanku yang tumpah padamu. Seakan mendung menggayut menutup senja. Seperti perih yang tiba-tiba kurasakan. Lalu langit seakan paham. Betapa kelamnya kututupi rapat perasaanku. Hatiku, yang sudah kukatupkan rapat. Hatiku, yang mungkin hanya jadi milikmu. Ya, mungkin. Sebab apa aku tahu, mana pula kamu sanggup bertahan denganku. Ketika hujan buncah di pelataran. Lalu menggenang, dan sedikit harumnya menyeruak. Kukatakan padamu, bahwa ini lagu cintaku. Sebongkah perasaan yang memerah saga. Menghancurkanku, namun terlampau hebat membuatku melayang. Lalu tinggi, terbang. Dan menembus batas awang-awang. Hujan mulai menitik. Sama seperti buliran di pipiku. Tumpah ruah. Namun apa dayaku? Memilikimu, tiada sanggup. Menjagamu, tiada mampu. Memimpikanmu. Ya, hanya di mimpiku. Berbayang-bayang, itu bentukmu dalam roman tidurku. Gelap, tapi tak hitam. Putih, tapi tak bercahaya. Kelabu hanya sebagian. Jadi apa? Sayangnya, aku tak pernah...