Skip to main content

Psikologi Gestalt dari Sudut Pandang Positivisme dan Penentangnya

Psikologi Gestalt adalah salah satu penyumbang penting dalam ilmu psikologi, meski gaungnya tidak terdengar terlalu keras seperti 3 mazhab besar psikologi yang lainnya, yaitu Psikoanalisa, Behaviorisme, dan Humanistik. Tetapi tidak dapat dipungkiri, bahwa Psikologi Gestalt berkontribusi pada pemikiran dunia psikologi saat ini. Franz Brentano, Max Wertheimer, Kurt Koffka, Wolfgang Kohler beserta sederet ilmuwan penganut Gestalt lainnya adalah para tokoh pemikiran Gestalt yang berhasil menjadikan aliran ini sebagai salah satu aliran penting dalam dunia psikologi. 


Psikologi Gestalt dan Postivisme 
Pada abad ke-19, positivisme lahir di Prancis, dari tangan seorang filsuf, Auguste Comte. Positivisme yang dibidani Comte mengungkapkan bahwa ilmu-ilmu pengetahuan adalah berdasarkan fakta keras yang terukur dan teramati (Adian, 2002). Positivisme menolak adanya unsur metafisik dan pengalaman batiniah yang tidak bisa ditangkap inderawi. Positivisme melembagakan doktrin kesatuan pengetahuan, yaitu sebuah doktrin yang menuntut ilmu pengetahuan untuk dibuktikan kebenarannya secara universal. Tanpa sebuah pengakuan universal, ilmu pengetahuan tersebut tak bisa diakui keabsahannya. 

Anteseden psikologi Gestalt dilatarbelakangi oleh ilmu saintis, terutama fisika. Salah satu pendirinya, Max Wertheimer adalah seorang yang berlatar belakang fisika. Beliau mengemukakan teori phi phenomenon, sebuah teori yang menjelaskan bahwa gerakan nyata tidak perlu dibagi menjadi beberapa bagian (Schultz, 2008). Selain itu, psikologi Gestalt juga berpendapat bahwa persepsi manusia dilihat secara keseluruhan, tidak dipecah-pecah menjadi elemen seperti pada aliran Strukturalisme Wundtian. 

Sama halnya seperti positivisme yang mengedapankan doktrin kesatuan pengetahuan yang tidak menjadikan pengalaman individu sebagai objek, psikologi Gestalt menyebutkan bahwa perseptual manusia adalah keseluruhan. Franz Brentano, menghadirkan konsep fenomenologi yang juga dianut oleh kaum positivistis. Beliau mengatakan bahwa pengalaman awal yang terjadi diasosiasikan secara bebas, tidak dianalisa secara abstrak. Obyek fenomena yang ada haruslah tertangkap oleh indera. Inilah kesamaan antara psikologi Gestalt dengan positivisme yang berazaskan pengalaman inderawi sebagai unsur pertama yang diamati. 

Pengetahuan, menurut positivisme, haruslah dibuktikan secara definitif dan empirik (Adian, 2002). Definitif, pengetahuan tersebut dapat ditangkap oleh sistem inderawi. Empirik, pengetahuan tersebut dapat dibuktikan dan dikaji secara ilmiah. Psikologi Gestalt membuktikan definitifnya dengan kajian hukum perseptualnya. Istilah law of proximity, law of closure, law of equivalence adalah identitas yang tidak bisa dilepaskan dari psikologi Gestalt sebagai doktrin mengenai konsep universalitas. Empirik, teori insight (pemahaman) yang dikemukakan Wolfgang Kohler bisa dibuktikan dengan eksperimennya terhadap mentalitas kera besar bernama Sultan. Bahwa kera tersebut dapat menggunakan tongkat yang tersedia di luar kandang untuk mengambil pisang, dengan menggunakan pemahaman dan idenya. 

Psikologi Gestalt membuktikan kesinambungannya dengan Positivisme melalui objektivitasnya, yaitu menelaah persepsi manusia secara keseluruhan. Hukum keseluruhan disini tidak dapat dihindari, sebab untuk membuktikan suatu kebenaran persepsi, dibutuhkan universalisme persepsi. Maka, dengan hadirnya positivisme, akan mengukuhkan kekuatan psikologi Gestalt yang memandang ojektivitas manusia. 


Psikologi Gestalt dan Anti-Positivisme 
Ketika positivisme mulai menggurita, muncul para penentangnya. Para penentang positivisme ini mengkritik metode positivisme yang dianggap terlalu menekankan pada prinsip objektivitas, sehingga faktor individu menjadi diabaikan. Sedangkan pada kenyataannya, faktor individu juga menjadi sumbangsih yang nyata pada prinsip keseluruhan itu sendiri. 

Kritik atas positivisme ini disampaikan oleh Richard Rorty, seorang anti-fondasionalis yang mengatakan bahwa kebenaran harus diukur bukan berdasarkan satu patokan epistemik yang universal dan transendental melainkan berdasarkan bentuk kehidupan masing-masing komunitas (Adian, 2002). Meski psikologi Gestalt menekankan presepsi manusia secara keseluruhan, tetapi tidak dapat dihindari bahwa keseluruhan adalah penjumlahan dari bagian-bagian elemen yang kecil. Keseluruhan tidak akan menjadi nyata, jika tidak bergabung dengan bagian-bagian lain yang membentuknya. 

Karl R. Popper, seorang filsuf yang juga terlibat dalam Lingkaran Wina, menolak metode verivikasi fakta-fakta positivisme lewat falsifikasi. Menurut Popper, ilmu baru dapat teruji kebenarannya jika ilmu itu dapat digugurkan teorinya. Makin tahan teori, maka makin mendekati kebenaran. Konsep Gestalt tentang persepsi secara keseluruhan haruslah dicari kebenarannya lewat pengguguran teori yang digunakan. 

Kritik atas falsifikasi Popper dialamatkan seorang filsuf bernama Thomas Kuhn. Kuhn percaya bahwa ilmu bekerja di bawah payung paradigma. Ilmu tidak universal, melainkan ada ciri khasnya tersendiri yang membuat hal tersebut menjadi berbeda. Hal ini berbeda dengan psikologi Gestalt yang cenderung memandang sesuatu secara universal dengan tidak mengindahkan subjektivitas. Adanya paradigma membuat masing-masing pengetahuan mempunyai ciri berbeda. Sama halnya dengan individualistis manusia yang sama sekali berbeda dengan manusia lain (individual differences). 

Kesimpulannya, positivisme yang mengungkung psikologi Gestalt tidak selamanya bisa dijadikan patokan. Sebab selain prinsip keseluruhan yang dilihat secara utuh, adanya elemen-elemen yang membentuknya juga menjadikan sesuatu hal menjadi subjektif, berbeda satu sama lain. 


DAFTAR PUSTAKA 

Adian, D.G. (2002). Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan: Dari David Hume sampai Thomas Kuhn. Jakarta: Teraju. 

Delfgaaw, B. (1992). Sejarah Singkat Filsafat Barat. Jogjakarta: Tiara Wacana. 

Sarwono, S.W. (2000). Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang 

Schultz, D.P. & Schultz, S.E. (2008). A History of Modern Psychology (9th ed). Belmont: Thomson Wadsworth. 

Wibowo, A. (2008). Positivisme dan Perkembangannya. Diakses pada tanggal 03 Januari 2012 dari http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/03/31/positivisme-dan-perkembangannya/ 



Comments

Popular posts from this blog

Bumi Surabaya: Resort Hijau di Tengah Terik Kota

Saya kira, setelah menikah dan punya satu bocah kecil yang lucu, saya akan susah untuk kembali ke kebiasaan dahulu. Mungkin, dahulu saya kuat banget kali ya naik gunung, mendaki, bawa ransel. Tetapi seiring usia bertambah, kekuatan yang tak lagi sama apalagi stamina juga berbeda, liburannya dialihkan ke bentuk lain yang beda. Terutama semenjak pandemi, pilihan berwisata juga semakin sempit. Beberapa sektor ekonomi terpuruk dan jatuh, terutama sektor wisata dan transportasi. Tahun 2020 akhir, salah satu platform agen perjalanan berlogo burung biru mengadakan diskon hotel besar-besaran. Tentu saya ikutan, walaupun besaran diskonnya tak begitu besar banget seperti teman-teman lain yang ikut berburu, saya cukup puas. Jadilah, staycation pertama saya bersama suami dan bocah. Tujuannya: BUMI SURABAYA CITY HOTEL. Mimpi menginap di hotel bintang 5 saja nggak pernah, nah ini pertama kali nginap disana tentu saja kagok. Apalagi kamarnya ada bathubnya, kayak di film-film orang kaya :D Suasana dek...

Titik.

Titik. Inilah akhir dari kita. Ujung dari segalanya. Muara dari segala keluh kesah. Titik. Yakinlah, ini semua sudah berhenti. Sudah selesai, tak ada lagi. Apa lagi yang harus ada? Atau diada-adakan? Titik. Ini sudah terlanjur basah. Mau bagaimana? Semua kini usang. Pemberhentian. Ya, lanjut, tak berjalan. Titik. Tak ada lagi, antara kamu dan aku. Tak ada lagi kita. Tak ada lagi cerita. Duka? Bahagia? Tak ada... Apalagi yang harus kita perbuat selain 'titik'? Selain berhenti pada ujung segalanya. Bukan ujung bahagia memang, tapi ini sudah jalannya. Jalan terbaik untuk kita. Ah, titik.

J&T Express, Pemain Baru yang Gak Main-main

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima cukup uang untuk membeli handphone sebagai ganti Sony Xperia L saya yang sudah cukup uzur. Berbagai masalah saya alami mulai dari case yang sudah pecah, lemot, dan yang paling menyebalkan adalah sering bootloop sendiri tanpa alasan ketika dihidupkan. Pernah 2 hari saya hidup tanpa handphone, rasanya aneh mengingat saya sangat aktif menggunakannya. Akhirnya, saya memutuskan membeli Xiaomi Redmi Note 3 Pro sebagai gantinya. Karena di Surabaya ada beberapa mall yang khusus IT dan hp, jadilah saya blusukan. Awal blusukan cuma untuk survey harga. Ketika sudah mantap untuk membeli, saya kembali lagi. Lha kok, harganya jadi naik sekitar 500ribu rupiah dari harga standarnya. Sempat bingung mau beli yang memang naik, atau pesan saja dari rekan pacar saya yang ada di Trenggalek. Kebetulan, harganya masih cukup masuk akal dan tidak dipatok tarif super tinggi kayak yang di Surabaya. Jadilah saya memesan. Selayaknya orang yang beli online, otomatis harus m...