Skip to main content

Belajar Sabar, Ikhlas, Syukur dari Kejadian Menyenangkan

Beberapa minggu terakhir ini, saya mengalami beberapa kejadian yang sebenarnya tidak janggal, cuma cukup luar biasa sebagai suatu pengalaman. Yah, rentetan kejadian ini tidak dikategorikan sebagai kejadian yang baik, sebenarnya. Bisa disebut sebagai kejadian yang cukup buruk bagi sebagian orang, yang sudah pernah mengalaminya, hehehe... Disini, saya tidak mencoba untuk curcol atau curhat, atau mengeluh. Saya hanya akan sedikit bercerita, semoga bisa menjadi tadabbur untuk semuanya. Amin :)

#Kejadian 1
Surabaya, 01 Februari 2013.
Ini merupakan salah satu awal Februari yang luar biasa bagi saya. 

Hari itu, saya menepati jadwal untuk bercerita melalui panggung Teater Boneka Fakultas Psikologi Universitas Airlangga di salah satu daerah di Surabaya. Sebenarnya, pada pagi hari sebelum saya berangkat, perasaan sudah tidak karuan enaknya. Feeling saya mengatakan, bahwa akan ada kejadian yang 'menyenangkan' hari ini. Pagi itu, bahkan saya melalaikan sholat Subuh saya (jangan ditiru ya), gara-gara semalam sebelumnya saya tidak bisa tidur dengan nyaman akibat demam dan sendirian di kos-kosan. Benar-benar sendirian. Saya juga memakai baju seragam T-Bone yang basah 80% akibat baru saya cuci pukul 9 malam sebelumnya. Saya kira akan kering terkena angin, ternyata malam itu dingin sekali! Alhasil, saya harus mengeringkan terlebih dahulu dengan cara menyetrika, menganginkan dengan kipas, dan menyemburkan angin panas hair-dryer. Naif sekali, memang.

Terlepas dari itu semua, demi memenuhi amanah, saya memutuskan untuk tetap berangkat. Lagipula, tidak ada alasan apapun yang bisa diterima logika untuk berhenti dan kemudian tidak pergi. Maka, berangkatlah saya untuk berkumpul di kampus tercinta. Sesampainya di tempat, kami briefing seperti biasa, mengangkat panggung, membereskan ini-itu, lalu berangkat. Ketika akan berangkat, saya diminta untuk membonceng teman saya, Desty. Sebab, saya menumpang motor dia. Sebelum berangkat, motor Desty tidak mau nyala. Dan setelah melewati rangkaian percobaan dan curahan doa, nyalalah dia. Wuih, betapa senangnya. Akhirnya kami berangkat. Perjalanan lancar, terkadang kami bercanda santai menikmati angin kesejukan pagi Surabaya.

Sesampai di tempat, kami seperti terombang-ambingkan. Lama menunggu kejelasan kapan tampil. Setelah dijemput dengan sambutan ramah, kami pun pergi menuju lokasi. Lalu manggung, kami juga cukup excited dengan adik-adik PAUD yang begitu ceria :D Singkat kata, selesailah kami manggung. Dan cukup mengagetkan, kami langsung diberikan feedback dari Bunda PAUD yang mengasuh PAUD tersebut. Wow, sungguh menggetarkan jiwa feedback yang diberikan, salah satunya untuk saya, sebagai pemeran boneka Momo Sapi. 

Setelah itu, kami pulang. Lagi, motor Desty tak mau di-starter. Kami kelimpungan, tapi kemudian berhasil. Saya kebagian lagi menjadi driver. Sialnya, karena terlalu takut motor Desty mati lagi, di perempatan, saya mengemudi dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dan, BOOM, saya menabrak sebuah mobil yang melintas di depan saya. Saya mengerem, lalu terjatuh. Si pemilik mobil, marah-marah, meminta saya bertanggung-jawab atas segalanya. Akhirnya, kami berdua bertukar identitas, dan jadilah saya galau setengah mati seharian.

Karena syok dengan kejadian tersebut, tangan saya tak berhenti gemetar. Diputuskan, Desty yang mengemudi. Saya dibonceng. Di gudang kampus, kami berkumpul sambil evaluasi. Sambil membahas masalah saya juga, tentunya. Wanda, Finy, Desty, Mas Izul, bolak-balik menenangkan dan memberi saya saran. Mereka juga mau berjanji untuk membantu saya menyelesaikan masalah ini. Setidaknya, dengan menemani saya untuk bertemu dengan Mas U -si pemilik mobil yang saya tabrak-. Di titik itulah, saya sadar, plus terharu sekali. Ternyata saya tak pernah sendirian. Selalu ada orang baik hati yang tulus membantu kita, meski kita kadang menjengkelkannya *menghela nafas panjang*. Terima kasih banyak teman-teman :")

Singkatnya, saya kemudian bertemu dan berdamai dengan Mas U. Masalah selesai, kedua pihak saling memaafkan, semua orang riang. Meskipun, saya sempat dimarah-marahi pasangan, dan disuruh cepat pulang. Akhirnya, saya pulang hari itu juga sehabis bertemu dengan Mas U. Nah, di sinilah kemudian menjadi sebuah masalah, karena kecerobohan saya pula. Nanti saya ceritakan ya *wink*.

Sepanjang perjalanan pulang, teman-teman banyak bertanya kabar, membesarkan hati. Menghibur saya, bahkan menawarkan membantu secara finansial. Terima kasih banyak, ujar saya, kalian sudah membantu lebih dari cukup. Tertawa, kemudian terharu lagi. Benar-benar, hari itu, saya belajar sabar (lagi), ikhlas (lagi), dan rasa syukur (lagi). Benar-benar, saya tak merasa kejadian itu sebagai suatu peristiwa buruk, namun sebagai pengingat saya. Benar-benar, ah, banyak lagi yang tak bisa saya deskripsikan. Sekali lagi, terima kasih, teman-teman :")

#Kejadian 2
Grati, 01 Februari 2013
Ini sebenarnya aib ya, tapi tidak saya ceritakan dengan gamblang. Cukup saya berikan line cerita sedikit saja, dan tak lupa kesimpulan.

Di dalam bus menuju rumah asal, pasangan saya mengirim pesan singkat yang cukup mengagetkan. Ujarnya, orang tuanya, dalam hal ini Ibu dia, tidak menyukai salah satu tindakan yang kami lakukan. Pasangan saya juga kemudian mengatakan hal yang sedikit mengecewakan saya. Saya bilang, saya bahagia asal kamu bahagia, tapi bukan dengan memberitahukan hal yang samasekali seolah saya yang menginginkannya.

Diambillah kesimpulan, ada baiknya kami menghindari pertemuan selama selang waktu yang cukup panjang. Saya menyanggupi, ini bagian dari sebuah resiko atas sebuah tindakan dan akibat. Saya lalu pulang, diantar becak motor. Dengan dia, mengiringi perjalanan pulang saya dari belakang. Kaki saya mulai ngilu, terlebih ngilu lagi hati saya.

Malamnya saya melamun. Ini sekali lagi adalah peringatan. Atau balasan Allah terhadap salah satu perbuatan tak menyenangkan saya pada-Nya. Sangat mengganjal, membuat saya makin galau. Memang, suatu kepercayaan itu datang tak mudah. Lalu, hilang dengan mudahnya. Jadi sebisa mungkin, jaga kepercayaan itu baik-baik. Malam itu, hujan menderas rintik-rintik.

#Kejadian 3
Surabaya, 10 Februari 2013
Ini kejadian yang benar-benar mengagetkan bagi saya. Disini saya menulisnya agak emosi, juga agak malas mengingat-ingat. Jadi maaf, tak saya ceritakan dengan detil.

 Selang seminggu lebih saya tak berada di Kota Pahlawan, saya kembali lagi. Pada mulanya, saya tak curiga dengan keadaan kamar saya. Barulah ketika saya memperhatikan beberapa sudut, mulai ada yang aneh. Saat saya mengecek, benar dugaan saya. Saya positif kemalingan, saudara-saudara. Beberapa benda berharga hilang. Termasuk, yang bukan milik saya.

Pada saat itu, saya tak menangis. Hanya merasa tertohok. Kok bisa-bisanya ya, pikir saya. Ya bisa, memang saya yang ceroboh. Lalu saya mulai memikirkan banyak kemungkinan. Saya berusaha tak suudzhon dan berpikiran buruk Menghela nafas, beristighfar. Berulang kali, seterusnya. Sholat isya' saya, pun rasanya menjadi lebih lama sekali dari biasanya, sebab, hati saya benar-benar tak tenang. Tak konsentrasi. Pun, malamnya saya tak bisa tidur. Namun akhirnya tertidur, walaupun tak mimpi indah...

Saya sadar, saya diperingatkan lagi. Ini juga bukti Allah masih peduli pada diri saya. Dengan saya yang banyak lalai, Allah masih memperhatikan saya. Juga menegur saya dengan cara sedemikian halusnya, tak diduga. Juga menasehati saya, banyak-banyaklah bersedekah. Beramal, jangan pelit. Lalu secara tak sadar, pelan-pelan pelupuk mata berlinang. Tapi saya tetap tak menangis. Saya juga berusaha percaya, rezeki itu milik masing-masing. Sudah ada yang mengatur. Belajar ikhlas, belajar bertahan sabar. Melakukan perbuatan baik itu sulit, tetapi menyenangkan memetik buahnya nanti ketika ranum.

Dan, sampai sekarang, saya bertahan dengan prinsip yang saya dapatkan.
Sabar, ikhlas, bersyukur.

Comments

Popular posts from this blog

Bumi Surabaya: Resort Hijau di Tengah Terik Kota

Saya kira, setelah menikah dan punya satu bocah kecil yang lucu, saya akan susah untuk kembali ke kebiasaan dahulu. Mungkin, dahulu saya kuat banget kali ya naik gunung, mendaki, bawa ransel. Tetapi seiring usia bertambah, kekuatan yang tak lagi sama apalagi stamina juga berbeda, liburannya dialihkan ke bentuk lain yang beda. Terutama semenjak pandemi, pilihan berwisata juga semakin sempit. Beberapa sektor ekonomi terpuruk dan jatuh, terutama sektor wisata dan transportasi. Tahun 2020 akhir, salah satu platform agen perjalanan berlogo burung biru mengadakan diskon hotel besar-besaran. Tentu saya ikutan, walaupun besaran diskonnya tak begitu besar banget seperti teman-teman lain yang ikut berburu, saya cukup puas. Jadilah, staycation pertama saya bersama suami dan bocah. Tujuannya: BUMI SURABAYA CITY HOTEL. Mimpi menginap di hotel bintang 5 saja nggak pernah, nah ini pertama kali nginap disana tentu saja kagok. Apalagi kamarnya ada bathubnya, kayak di film-film orang kaya :D Suasana dek...

Titik.

Titik. Inilah akhir dari kita. Ujung dari segalanya. Muara dari segala keluh kesah. Titik. Yakinlah, ini semua sudah berhenti. Sudah selesai, tak ada lagi. Apa lagi yang harus ada? Atau diada-adakan? Titik. Ini sudah terlanjur basah. Mau bagaimana? Semua kini usang. Pemberhentian. Ya, lanjut, tak berjalan. Titik. Tak ada lagi, antara kamu dan aku. Tak ada lagi kita. Tak ada lagi cerita. Duka? Bahagia? Tak ada... Apalagi yang harus kita perbuat selain 'titik'? Selain berhenti pada ujung segalanya. Bukan ujung bahagia memang, tapi ini sudah jalannya. Jalan terbaik untuk kita. Ah, titik.

J&T Express, Pemain Baru yang Gak Main-main

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima cukup uang untuk membeli handphone sebagai ganti Sony Xperia L saya yang sudah cukup uzur. Berbagai masalah saya alami mulai dari case yang sudah pecah, lemot, dan yang paling menyebalkan adalah sering bootloop sendiri tanpa alasan ketika dihidupkan. Pernah 2 hari saya hidup tanpa handphone, rasanya aneh mengingat saya sangat aktif menggunakannya. Akhirnya, saya memutuskan membeli Xiaomi Redmi Note 3 Pro sebagai gantinya. Karena di Surabaya ada beberapa mall yang khusus IT dan hp, jadilah saya blusukan. Awal blusukan cuma untuk survey harga. Ketika sudah mantap untuk membeli, saya kembali lagi. Lha kok, harganya jadi naik sekitar 500ribu rupiah dari harga standarnya. Sempat bingung mau beli yang memang naik, atau pesan saja dari rekan pacar saya yang ada di Trenggalek. Kebetulan, harganya masih cukup masuk akal dan tidak dipatok tarif super tinggi kayak yang di Surabaya. Jadilah saya memesan. Selayaknya orang yang beli online, otomatis harus m...