Identitas manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa dianggap sebagai salah satu unsur yang tak penting. Manusia sebagai zoon politicon membutuhkan orang lain untuk hidup dan maju. Dari setiap zoon politicon itu, timbullah sebuah kognisi individu yang masing-masing mempunyai individual differences yang tak sama rata.
Kemauan manusia untuk maju, adalah salah satu keinginan untuk memerdekakan peradaban yang modern. Modern, dalam artian berkembang dan humanis. Setiap manusia mempunyai kesamaan hak yang tidak bisa diganggu gugat. Free will, begitu hak-hak manusia untuk bebas disebut. Manusia tak ingin diganggu gugat dalam hal memutuskan rasionalitas mereka. Rasionalitas inilah, cikal bakal bagaimana modernitas dibentuk dan digubah menjadi sistem yang sistematis, sebuah paradigma yang disebut ‘humanis’.
Agaknya, perlu ditelaah sebentar saja apa itu modernisme yang merupakan sumber dari pemahaman tentang modernitas. Modernisme, mengutip Zainal Abidin, yaitu semangat (elan) untuk meraih kemajuan dan untuk humanisasi manusia. Semangat ini dilandasi oleh keyakinan sangat optimistik, dari kaum modernis akan kekuatan manusia (Abidin, 2006: 238).
Semangat untuk meraih kemajuan ini didasarkan pada ketunggalan rasio, dimana rasio ditempatkan di atas segalanya, dan rasionalitas adalah rajanya. Rasio adalah kunci utama membangun peradaban. Dengan rasionalitas, manusia dapat menggunakan pola pikir mereka untuk meng-humanisasi sistematika yang terjadi. Pendek kata, modernitas adalah kesamaan dari humanistik, dimana manusia bebas menggunakan rasio mereka untuk bertindak sebebas-bebasnya demi kemajuan peradaban.
Jika ditilik dari beberapa sudut pandang, modernitas benar-benar menawarkan keindahan duniawi yang berbeda bagi manusia. Sebab, manusia dibebaskan untuk berpikir rasional, menanggalkan atribusi perbedaan dengan menyamaratakan unsur-unsur kemanusiaan, serta adanya realitas sistematis yang melingkupi strukturisasi kehidupan.
Krisis Manusia di Era Modernitas
Modernitas menyusun kejenjangan manusia secara hierarkis. Dalam Abidin, 2006 disebutkan bahwa ada tingkatan yang diusung oleh kaum penganut paham ini. Tingkatan puncak, atau The One, adalah posisi sentral yang singular. Singular disini dimaksudkan sebagai kesamaan yang sejajar. Manusia, adalah makhluk yang mempunyai batas-batas yang terang, dimensi-dimensi yang dapat ditunjukkan, struktur ruang yang menempatkannya dalam dimensi tertentu (Bakker, 2000: 127). Ini berarti, manusia adalah makhluk yang keunikannya disamaratakan, Dari perspektif singular pun, rasio manusia dianggap sebagai hal yang luar biasa kuat pengaruhnya.
Sedangkan, di lain sisi, ada tingkatan lain yaitu The Others. The Others adalah sesuatu yang tidak masuk hitungan dari fragmentasi rasionalitas (Abidin, 2006: 240). Sesuatu yang dianggap ‘tak normal’, adalah sesuatu yang aneh dan tak biasa bagi kaum The One. Padahal, setiap manusia, menurut modernisme, mempunyai kebebasannya tersendiri. Ini menjadi sebuah persinggungan dan paradoks manakala ia bertabrakan dengan prinsip individual differences. Makna, menjadi suatu pemahaman tunggal, malah menjadikan modernisme menjadi sebuah kajian sempit yang mengubah dunia menjadi bentuknya seperti sekarang.
Ketika narasi-narasi modernitas menyerbu secara sporadis di berbagai sisi, rasionalitas sebagai makna tunggal modernitas mengukuhkan diri. Lewat paham materialisme yang mengukur kedigdayaan lewat hierarki materi secara rasional, modernitas menohok kaum-kaum marginal dengan sistematika The One dan The Others-nya. Perbedaan dan pluralitas antar manusia menjadi surut, kritis tanpa suatu pun penghargaan terhadap kaum ‘tak biasa’ ini.
Pun demikian, dengan mengagungkan prinsip sama-rata, secara langsung mengabaikan identitas personal pada tiap-tiap individu. Individu kehilangan identitas, sebab mereka disamaratakan secara universal. Kebebasan yang diagung-agungkan kemudian menjadi paradoks, manakala prinsip universalitas bertemu. Krisis identitas ini bisa diatasi dengan membangun paradigma dan kognisi diri yang seimbang. Manusia, pada akhirnya dapat memanfaatkan ‘kebebasan’ mereka dengan membawa persepsi terhadap masa depannya masing-masing.
Krisis manusia era modernisme saat ini, berkembang lebih ke arah pemanfaatan peralatan serba praktis. Kecenderungan penggunaan teknologi yang berlebihan, semakin menguatkan degradasi identitas individu. Meski pada akhirnya menjadi manusia unggul dalam kemajuan, namun semua itu tetap sebuah kesia-siaan semata. Sebab, narasi modernisme berimplikasi secara implisit lewat sebuah masa yang praktis, serta serba pragmatis.
Perbaikan ‘Gizi’ Kemanusiaan
Selaiknya orang sakit, manusia perlu makan makanan bergizi dan seimbang, plus suplemen vitamin dan obat-obatannya. Sama halnya dengan manusia dalam narasi agung modernitas, dimana mereka menghambakan rasio sebagai sebuah wujud yang tunggal. Manusia, menciptakan dunia sendiri dengan rasio. Ketidakpuasan akan satu hal, membuat manusia menciptakan berbagai ‘teknologi’ pemuas kebutuhan dan ketidaknyamanan itu.
Dalam keadaan masih ‘sakit’, manusia butuh ‘gizi’ agar mampu bertahan. Ketika moral-moral dan kognisi manusia diserang dengan doktrin humanitas, seharusnya manusia mampu melawan. ‘Antibodi’ yang diperlukan tak banyak, hanya perlu untuk menjadikan rasio sebagai persepsi identitas diri. Agar suatu saat, ketika pragmatisme dan materialisme membumi, yang dilakukan hanyalah tinggal membalik pola pikir tentang modernitas yang semakin lama semakin mengikis sendi-sendi kehidupan.
Globalisasi, sebagai anak turun modernisme, menghadirkan pengetahuan baru akan dunia luar yang tak terbatas. Humanitas manusia pasti akana ‘tersentuh’ jika menyangkut kebebasan yang didamba-dambakan. Tetapi, jika diperinci dan direnungkan, justru ketika level humanitas bertambah, level aspek-aspek transendental makin berkurang. Sistematika yang telah berjarak, semakin jauh lagi jaraknya. Manusia The One menjadi satu, dan The Others semakin terpinggirkan. Pluralisme ditiadakan, perbedaan individual dihancurkan.
Kembali lagi pada prinsipil manusia tentang rasio yang didengung-dengungkan modernisme. Rasio, adalah bagian dari strukturisasi kognitif manusia. Dengan menggunakan rasio, manusia akan berpikir. Cogito ergo sum, ucap Descartes. Aku berpikir maka aku ada, menawarkan bentuk rasionalitas manusia melalui perenungan-perenungan tentang identitas, yang bukan tidak mungkin akan menjadikan perlawanan terbesar bagi modernitas di masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. (2006). Filsafat Manusia: Memahamai Manusia Melalui Filsafat. Bandung: Rosdakarya
Bakker, A. (2000). Antropologi Metafisik. Yogyakarta: Kanisius
Sachari, A. (1999). Modernisme Sebuah Tinjauan Historis Desain Modern. Jakarta: Balai Pustaka
Syafi’ie, M. (2011). Kekerasan dan Modernitas. Diakses pada tanggal 17 April 2012 dari http://syafiie.blogspot.com/2011/04/kekerasan-dan-modernitas.html
Taher, N. (2012). Teori Modernitas Kontemporer. Diakses pada tanggal 21 April 2012 dari http://dasimerakpoetra.wordpress.com/2012/04/17/teori-modernitas-kontemporer/
Takariawan, C. (2011). Dari Krisis Global Menuju Kesadaran Lokal. Diakses pada tanggal 17 April 2012 dari http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/07/dari-krisis-global-menuju-kesadaran-lokal/
Comments
Post a Comment