Ia pandangi lagi dinding rumah itu. Kusam. Debu tampak menempel di sana-sini. Menampakkan bahwa rumah itu jarang dibersihkan. Namun ia yakin masih ada penghuni di dalamnya. Dua-tiga langkah lagi ia akan sampai, dan mengetuk. Namun ada sesuatu yang memberati tulang kakinya untuk melangkah. Entah apa. Ia hanya berdiri, mematung...
**
Ingar bingar sorot lampu dan dentuman musik pub malam itu tak menyorotkan niat Arash untuk meminum bersloki-sloki vodka yang ia pesan. Ia hanya ingin menghabiskan malamnya dengan vodka, minuman yang amat dicintainya. Tak ia pedulikan berpasang-pasang pasangan, baik hetero maupun homoseksual yang bercumbu malam itu. Baginya, itu sudah biasa. Yang penting, hanya ada vodka dan dirinya.
“Joeeee... Hik. Satu sloki lagi... Hikk..”
Sang bartender, manut akan perintah pelanggan setianya itu. Cekatan, sebentar saja minuman bening berbau menyengat itu rampung.
“Loe udah mabuk, Ar...”
“Biar... Hikk.. Gue pingin hanya ada gue dan vodka!! Hikk..” Ujar Arash, menyeringai.
Sang teman hanya mengalihkan pandangannya. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Susah menjelaskan pada orang yang sudah menjadikan minuman keras bagian dari darahnya.
“Hikkk.. Gue pingin.. Hikkk.. Pulang...”
“Ah dasar loe! Sudah sini gue bopong! Gue yang nyetir, mana kunci mobil loe?” Sentaknya kesal.
Arash merogoh kunci celananya. Mencoba menemukan kunci Benz hitam kesayangannya. Lalu ia serahkan asal-asalan. Sang teman, hanya diam dan langsung menyahut cepat.
“Untung loe ajak gue!”
Cepat, mereka langsung menuju mobil. Pulang.
**
Ruang meeting direksi itu tampak lengang. Arash memandang ke arah pemandangan hiruk-pikuk Metropolis yang sibuk. Kepalanya masih pusing, gara-gara tadi malam. Ditambah lagi, masalah yang menderanya selama ini...
“Aku tidak mau lagi menjadi bagian hidupmu! Pergi!”
“Saham perusahaan kita turun 10%, Pak.. Bisa bangkrut kita...”
“Mana hutang 200-juta mu?”
“Pak, jatuh tempo pembayaran hutang kita pada bank satu bulan setengah lagi...”
“Keungan perusahaan defisit...”
Apa yang harus aku lakukan? Desahnya. Dipukul-pukulnya kusen jendela, meratapi semua masalah. Ah, mungkin aku harus minum sebotol aspirin lagi! Ia mendengus.
Arash melangkahkan kaki menuju rak lemari kuno di Ruang Direksi yang tampak modern itu. Sedikit antik, tapi tetap menyuguhkan kesan klasik. Gaya ruangan pun disetel sedemikian rupa, khas Negeri Eropa. Perabotan juga tak luput dari sasaran, dicat senada dengan warna temboknya. Kadang demi menghindari kebosanan, OB di perusahaan itu juga sering menggotong keluar-masuk perabotan baru, sekali lagi sama dengan warna temboknya.
Masih diacak-acaknya lemari itu. Arash sedikit kesal. Ia lalu beralih ke rak meja kerjanya. Mencoba mencari sebotol aspirin untuk ditenggak, sekedar memuaskan rasa pening yang tak henti-henti mendera otak dan tempurung kepala. Nihil. Arash kembali menuju sasaran lain. Barangkali di rak dokumen? Atau di kotak P3K yang berdebu itu? Atau di tempat yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya? Atau memang ia yang melewatkan sejengkal tempat, hanya untuk mencari sebutir aspirin dalam botol warna biru?
Kepala Arash makin pening.
**
Perempuan tua itu terbatuk-batuk. Tangannya yang mulai keriput sudah bergetar hebat. Tenggorokannya sudah gatal, ingin meneguk segelas air bening yang dingin. Tangan wanita itu masih bergetar, diselingi kakinya yang tertatih-tatih meraih meja kendi. Ah, air... Aku sudah tidak tahan, air... Pekiknya di sela rintihan kaki yang mulai menapak di lantai tanah itu.
Kusam.
Kendi yang pudar warnanya itu langsung menumpahkan isinya kedalam gelas belimbing yang tak kalah kusamnya. Di sela tegukan air itu, si perempuan tua mengucap getaran syukur yang tiada terkira. Ia masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan Yang Maha Hidup. Getaran syukurnya makin hebat tatkala semua isi gelas bening itu habis ditenggaknya. Lalu si perempuan tua menangis. Ia rindu...
**
“...Produk ini kami desain sedemikian rupa, untuk mengikat hati konsumen. Tidak hanya sasaran utamanya saja, yaitu remaja, tetapi juga mencakup semua kalangan. TrustCo, Bring All of Your Future Here!”
Segera suara tepukan tangan membahana dalam ruang rapat yang modern itu, begitu Arash menuntaskan presentasinya.
“Wah, Pak Arash, kami sangat yakin produk ini akan menyentuh hati banyak kalangan. Apalagi sasaran utamanya adalah remaja yang notabene sedang dalam masa pertumbuhan emosional mereka!”
“Kami setuju untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan Anda!”
Arash tersenyum simpul. Ia merasa puas karena presentasi produk yang selama ini ia siapkan dengan kerja kerasnya, tidak sia-sia.
“Terima kasih, hadirin. Saya akhiri presentasi hari ini, selamat siang!”
**
“Ibu, Arash tidak tahan!”
“Astaghfirullah Nak, apa yang membuat kamu berkata seperti itu?”
“Arash sudah bosan dengan situasi dan kondisi hidup kita yang seperti ini, Bu! Arash bosan dikucilkan teman-teman, gara-gara hidup kita yang miskin!”
“Ya Allah Nak... Tobat...”
“Huh!”
Arash membanting pintu. Ibu Arash terduduk lesu. Dadanya sesak, perlahan air matanya turun.
“Anakku...”, lirihnya.
**
Indra termenung menghadapi surat perjanjian yang ada di hadapannya. Bagi Indra, itu tidak memberikan keuntungan apa-apa. Tapi ia berani mengambil resiko.
“Bagaimana, Ndra? Kau setuju dengan hasil perundingan kita ini?”
“Ini tidak adil, Ar. Bagaimana kalau kita runding ulang? Di bagian ini masih kurang jelas,” tutur Indra sambil menunjuk deretan kata yang dimaksud.
“Hmm, aku sendiri kurang jelas dengan bagian itu. Okelah, ayo kita runding ulang.”
Mereka berdebat ulang. Berdebat sengit beberapa kali. Beberapa gelas minuman pun habis demi meminimalisir rasa haus yang mendera. Sampai akhirnya perdebatan itu berujung sebuah kesepakatan, selesai.
“Thanks Ar, senang bisa berbisnis denganmu!”
“Aku juga, Ndra! Kau memang temanku yang baik!”
**
Malam itu masih bergejolak. Arash masih tidak bisa melupakan keinginan terbesarnya untuk hidup bebas dari kemiskinan. Hatinya makin panas tatkala ia mengingat semua ejekan teman-temannya bebas mengalir, seperti tadi pagi.
“Hei miskin, salah sekolah ya?”
“Orang nggak punya nggak pantas sekolah di sini! Kalau aku jadi dia, mendingan aku pergi aja deh!”
Arash menggeram. Huh! Dengusnya.
Aku tidak boleh berlama-lama di sini. Lebih baik aku pergi. Tapi bagaimana dengan Ibu? Ah gampang, di samping kan masih ada tetangga. Batin Arash. Secepat kilat ia segera mengambil tas besar, mengemasi semua barang yang dibutuhkan, dan mengambil uang tabungan yang selama ini ia simpan di atas lemari.
Aku pergi, Ibu. Maafkan aku.
Ia melompat, lepas. Dalam hati, Arash merasa bagai Murai yang baru lepas dari sangkar. Padahal ia tak tahu dunia luar, nantinya begitu kejam...
**
“Saya boleh bekerja di sini, Pak? Sungguh?”
“Ya, anak muda. Surat lamaran yang kau ajukan membuatku tertarik. Kau akan kuberikan posisi yang sepadan dengan kemampuanmu. Besok pagi-pagi, datanglah ke sini lagi, mulailah bekerja!”
“Baik Pak, saya berjanji tidak akan mengecewakan Anda!”
Arash merasa hatinya meletup-letup gembira. Aku akan jadi kaya! Teriaknya dalam hati. Arash menyunggingkan sebuah senyum. Senyum kepuasan.
**
Arash masih sibuk dengan deretan angka di layar laptopnya. Konsentrasinya hampir pecah ketika Hapsari, sekertaris pribadi Pak Wijaya, memanggilnya.
“Pak Arash, kedatangan Anda ditunggu Pak Wijaya di ruang beliau, sekarang! Ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan oleh beliau dengan Anda.”
“Ah, aku sedang sibuk!”
“Tapi Pak Arash, ini perintah langsung dari beliau!”
“Benarkah? Ah, baiklah. Aku akan ke sana secepatnya.”
Arash menutup layar laptopnya dengan cekatan. Ia penasaran, apa yang hendak dibicarakan oleh Bos-nya itu? Ia segera mengetuk pintu ruang Pak Wijaya, lalu masuk. Tampak Pak Wijaya sedang mencatat sesuatu.
“Ah Arash, anak muda yang ulet! Mari, duduk!”
“Hmm, ada keperluan apa Bapak memanggil saya?”
“Begini Nak, aku ingin membicarakan mengenai perluasan perusahaan denganmu. Nah, karena kulihat kerjamu selama ini begitu bagus, aku ingin engkau mengepalai anak perusahaan kita yang baru. Ini tantangan berat, Nak. Tapi aku yakin kau bisa melakukannya! Aku akan sangat kecewa kalau kau menolaknya. Bagaimana? Kau bersedia?”
Arash terdiam. Pilihan sulit.
“Saya bersedia, Pak. Insya Allah.”
**
Arash mengucek-ucek matanya. Di luar hujan. Pantas udara menjadi sangat dingin. Tapi siapa itu yang berani mengetuk-ngetuk pintu ruanganku begitu keras? Kurang ajar, tidak sopan. Desisnnya marah.
“Pak Arash! Pak Arash!”
“Hei siapa itu di luar? Masuk!”
Dilon, Marketing Manager perusahaannya, masuk. Ia tampak ketakutan, tubuhnya gemetar.
“Ada apa, Di?” Sahut Arash tenang.
“Bbb.. Bbbe.. Gggini Pak Arash, saya tadi baru pulag dari bank. Saya berniat mengecek rekening perusahaan kita, untuk laporan pertanggungjawaban tiap bulan. Tapi Pak, saya kaget. Ternyata banyak laporan debitur asing yang masuk tiap bulan. Saya tidak tahu darimana, Pak. Tapi setelah raya cek, laporan itu diatasnamakan kepada Indra Pramunjaya..”
Arash kaget. Ia tercengang. Sahabatnya sendiri, Indra, menghianatinya? Sejenak Arash tak percaya. Ia limbung.
“Ambilkan aku air, Di.. Kita harus mengadakan rapat Direksi, secepatnya...”
Dilon, yang tak tega melihat pimpinannya lemas, langsung menjalankan perintah.
**
Wanita tua itu masih lemas, matanya sayu. Ia tak mampu bangkit barang sebentar saja. Bibirnya berkali-kali mengucap kalimat dzikir. Harapnya, hal itu dapat mengurangi rasa sakit yang menyiksa batin dan jiwanya...
“Allah, dimana anakku? Aku rindu Arash-ku, Ya Allah... Jika Engkau mengizinkanku untuk bertemu dengannya, maka aku akan senang. Namun jika Engkau tidak mengizinkanku untuk melihat lagi wajahnya, Allah, aku ingin ia tahu bahwa aku menyayangi dan mencintainya...”
Di luar hujan. Rintik-rintik gerimis turun membasahi kaca rumah kayu yang buram itu. Makin lama makin deras. Mungkin, tidak lebih deras dari air mata si wanita tua...
**
“Ini pilihan sulit bagi perusahaan kita. Saya sebagai Pimpinan Perusahaan, memutuskan untuk mengalihkan jabatan saya ke Wakil Direksi untuk sementara. Saya akan mengambil cuti selama beberapa bulan ke depan, sampai saya bisa menemukan penyelesaian dan jalan keluar dari masalah ini. Saya, Arash Abdurrahman, meminta maaf atas segala tindakan dan perbuatan saya selama ini.
Saya berharap, dengan lepasnya saya untuk sementara waktu, akan membuat keadaan perusahaan menjadi lebih baik. Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini. Rapat ini saya tutup, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...”
Hadirin menjawab dengan lirih. Sebagian terdiam.
Arash berjalan dengan hati tak menentu. Aku pulang, Ibu.
**
Laki-laki muda itu masih berdiri mematung. Umurnya mungkin baru 30 tahun. Gurat-gurat kedewaasaan mengalir di sepanjang wajahnya. Setelan bajunya rapi, mungkin ia orang kota? Laki-laki itu lalu berjalan, tapi langkahnya seperti diseret ribuan beton...
“Kau mencari siapa, Nak?”
“Pak Hanif? Ini benar Pak Hanif?”
Lelaki tua itu kaget. Tak menyangka, si anak muda berpakaian perlente ini mengenalinya. “Siapa kau?”
“Saya Arash, Pak... Pak Hanif dulu guru saya sewaktu SMP... Masih ingat dengan Arash Abdurrahman kan, Pak? Yang pernah memecahkan gelas di meja guru gara-gara bermain bola?”
“Allahu Akbar! Kau telah tumbuh dewasa, Nak! Apa yang membawamu kemari?”
“Ceritanya panjang, Pak.” Mendadak wajah gembira Arash berubah sendu. “Ibu mana?”
Lelaki tua yang wajahnya semula gembira, kini mendadak seperti tersaput awan kelabu. “Bu Maimunah, maksudmu?”
“Iya, Pak. Bu Maimunah, Ibu saya! Ibu ada di rumah? Saya rindu, saya ingin meminta maafnya, Pak. Saya ingin memeluk dan menciumi kakinya...”
“Ibumu ada Nak, tapi Ibumu telah tenang di sisi Allah SWT... Mari, ikut aku ke makamnya,” ajak Pak Hanif.
Arash menangis. Menangis, karena menyesali semua perbuatannya. Menangis, krena tak sempat meminta maaf pada Ibunya. Menangis, karena ia begitu merindukan sosok Ibu yang dicintainya...
“Maafkan aku, Ibu,” bisik Arash, pilu.
Mendung di awan masih kelabu.
**
Ingar bingar sorot lampu dan dentuman musik pub malam itu tak menyorotkan niat Arash untuk meminum bersloki-sloki vodka yang ia pesan. Ia hanya ingin menghabiskan malamnya dengan vodka, minuman yang amat dicintainya. Tak ia pedulikan berpasang-pasang pasangan, baik hetero maupun homoseksual yang bercumbu malam itu. Baginya, itu sudah biasa. Yang penting, hanya ada vodka dan dirinya.
“Joeeee... Hik. Satu sloki lagi... Hikk..”
Sang bartender, manut akan perintah pelanggan setianya itu. Cekatan, sebentar saja minuman bening berbau menyengat itu rampung.
“Loe udah mabuk, Ar...”
“Biar... Hikk.. Gue pingin hanya ada gue dan vodka!! Hikk..” Ujar Arash, menyeringai.
Sang teman hanya mengalihkan pandangannya. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Susah menjelaskan pada orang yang sudah menjadikan minuman keras bagian dari darahnya.
“Hikkk.. Gue pingin.. Hikkk.. Pulang...”
“Ah dasar loe! Sudah sini gue bopong! Gue yang nyetir, mana kunci mobil loe?” Sentaknya kesal.
Arash merogoh kunci celananya. Mencoba menemukan kunci Benz hitam kesayangannya. Lalu ia serahkan asal-asalan. Sang teman, hanya diam dan langsung menyahut cepat.
“Untung loe ajak gue!”
Cepat, mereka langsung menuju mobil. Pulang.
**
Ruang meeting direksi itu tampak lengang. Arash memandang ke arah pemandangan hiruk-pikuk Metropolis yang sibuk. Kepalanya masih pusing, gara-gara tadi malam. Ditambah lagi, masalah yang menderanya selama ini...
“Aku tidak mau lagi menjadi bagian hidupmu! Pergi!”
“Saham perusahaan kita turun 10%, Pak.. Bisa bangkrut kita...”
“Mana hutang 200-juta mu?”
“Pak, jatuh tempo pembayaran hutang kita pada bank satu bulan setengah lagi...”
“Keungan perusahaan defisit...”
Apa yang harus aku lakukan? Desahnya. Dipukul-pukulnya kusen jendela, meratapi semua masalah. Ah, mungkin aku harus minum sebotol aspirin lagi! Ia mendengus.
Arash melangkahkan kaki menuju rak lemari kuno di Ruang Direksi yang tampak modern itu. Sedikit antik, tapi tetap menyuguhkan kesan klasik. Gaya ruangan pun disetel sedemikian rupa, khas Negeri Eropa. Perabotan juga tak luput dari sasaran, dicat senada dengan warna temboknya. Kadang demi menghindari kebosanan, OB di perusahaan itu juga sering menggotong keluar-masuk perabotan baru, sekali lagi sama dengan warna temboknya.
Masih diacak-acaknya lemari itu. Arash sedikit kesal. Ia lalu beralih ke rak meja kerjanya. Mencoba mencari sebotol aspirin untuk ditenggak, sekedar memuaskan rasa pening yang tak henti-henti mendera otak dan tempurung kepala. Nihil. Arash kembali menuju sasaran lain. Barangkali di rak dokumen? Atau di kotak P3K yang berdebu itu? Atau di tempat yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya? Atau memang ia yang melewatkan sejengkal tempat, hanya untuk mencari sebutir aspirin dalam botol warna biru?
Kepala Arash makin pening.
**
Perempuan tua itu terbatuk-batuk. Tangannya yang mulai keriput sudah bergetar hebat. Tenggorokannya sudah gatal, ingin meneguk segelas air bening yang dingin. Tangan wanita itu masih bergetar, diselingi kakinya yang tertatih-tatih meraih meja kendi. Ah, air... Aku sudah tidak tahan, air... Pekiknya di sela rintihan kaki yang mulai menapak di lantai tanah itu.
Kusam.
Kendi yang pudar warnanya itu langsung menumpahkan isinya kedalam gelas belimbing yang tak kalah kusamnya. Di sela tegukan air itu, si perempuan tua mengucap getaran syukur yang tiada terkira. Ia masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan Yang Maha Hidup. Getaran syukurnya makin hebat tatkala semua isi gelas bening itu habis ditenggaknya. Lalu si perempuan tua menangis. Ia rindu...
**
“...Produk ini kami desain sedemikian rupa, untuk mengikat hati konsumen. Tidak hanya sasaran utamanya saja, yaitu remaja, tetapi juga mencakup semua kalangan. TrustCo, Bring All of Your Future Here!”
Segera suara tepukan tangan membahana dalam ruang rapat yang modern itu, begitu Arash menuntaskan presentasinya.
“Wah, Pak Arash, kami sangat yakin produk ini akan menyentuh hati banyak kalangan. Apalagi sasaran utamanya adalah remaja yang notabene sedang dalam masa pertumbuhan emosional mereka!”
“Kami setuju untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan Anda!”
Arash tersenyum simpul. Ia merasa puas karena presentasi produk yang selama ini ia siapkan dengan kerja kerasnya, tidak sia-sia.
“Terima kasih, hadirin. Saya akhiri presentasi hari ini, selamat siang!”
**
“Ibu, Arash tidak tahan!”
“Astaghfirullah Nak, apa yang membuat kamu berkata seperti itu?”
“Arash sudah bosan dengan situasi dan kondisi hidup kita yang seperti ini, Bu! Arash bosan dikucilkan teman-teman, gara-gara hidup kita yang miskin!”
“Ya Allah Nak... Tobat...”
“Huh!”
Arash membanting pintu. Ibu Arash terduduk lesu. Dadanya sesak, perlahan air matanya turun.
“Anakku...”, lirihnya.
**
Indra termenung menghadapi surat perjanjian yang ada di hadapannya. Bagi Indra, itu tidak memberikan keuntungan apa-apa. Tapi ia berani mengambil resiko.
“Bagaimana, Ndra? Kau setuju dengan hasil perundingan kita ini?”
“Ini tidak adil, Ar. Bagaimana kalau kita runding ulang? Di bagian ini masih kurang jelas,” tutur Indra sambil menunjuk deretan kata yang dimaksud.
“Hmm, aku sendiri kurang jelas dengan bagian itu. Okelah, ayo kita runding ulang.”
Mereka berdebat ulang. Berdebat sengit beberapa kali. Beberapa gelas minuman pun habis demi meminimalisir rasa haus yang mendera. Sampai akhirnya perdebatan itu berujung sebuah kesepakatan, selesai.
“Thanks Ar, senang bisa berbisnis denganmu!”
“Aku juga, Ndra! Kau memang temanku yang baik!”
**
Malam itu masih bergejolak. Arash masih tidak bisa melupakan keinginan terbesarnya untuk hidup bebas dari kemiskinan. Hatinya makin panas tatkala ia mengingat semua ejekan teman-temannya bebas mengalir, seperti tadi pagi.
“Hei miskin, salah sekolah ya?”
“Orang nggak punya nggak pantas sekolah di sini! Kalau aku jadi dia, mendingan aku pergi aja deh!”
Arash menggeram. Huh! Dengusnya.
Aku tidak boleh berlama-lama di sini. Lebih baik aku pergi. Tapi bagaimana dengan Ibu? Ah gampang, di samping kan masih ada tetangga. Batin Arash. Secepat kilat ia segera mengambil tas besar, mengemasi semua barang yang dibutuhkan, dan mengambil uang tabungan yang selama ini ia simpan di atas lemari.
Aku pergi, Ibu. Maafkan aku.
Ia melompat, lepas. Dalam hati, Arash merasa bagai Murai yang baru lepas dari sangkar. Padahal ia tak tahu dunia luar, nantinya begitu kejam...
**
“Saya boleh bekerja di sini, Pak? Sungguh?”
“Ya, anak muda. Surat lamaran yang kau ajukan membuatku tertarik. Kau akan kuberikan posisi yang sepadan dengan kemampuanmu. Besok pagi-pagi, datanglah ke sini lagi, mulailah bekerja!”
“Baik Pak, saya berjanji tidak akan mengecewakan Anda!”
Arash merasa hatinya meletup-letup gembira. Aku akan jadi kaya! Teriaknya dalam hati. Arash menyunggingkan sebuah senyum. Senyum kepuasan.
**
Arash masih sibuk dengan deretan angka di layar laptopnya. Konsentrasinya hampir pecah ketika Hapsari, sekertaris pribadi Pak Wijaya, memanggilnya.
“Pak Arash, kedatangan Anda ditunggu Pak Wijaya di ruang beliau, sekarang! Ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan oleh beliau dengan Anda.”
“Ah, aku sedang sibuk!”
“Tapi Pak Arash, ini perintah langsung dari beliau!”
“Benarkah? Ah, baiklah. Aku akan ke sana secepatnya.”
Arash menutup layar laptopnya dengan cekatan. Ia penasaran, apa yang hendak dibicarakan oleh Bos-nya itu? Ia segera mengetuk pintu ruang Pak Wijaya, lalu masuk. Tampak Pak Wijaya sedang mencatat sesuatu.
“Ah Arash, anak muda yang ulet! Mari, duduk!”
“Hmm, ada keperluan apa Bapak memanggil saya?”
“Begini Nak, aku ingin membicarakan mengenai perluasan perusahaan denganmu. Nah, karena kulihat kerjamu selama ini begitu bagus, aku ingin engkau mengepalai anak perusahaan kita yang baru. Ini tantangan berat, Nak. Tapi aku yakin kau bisa melakukannya! Aku akan sangat kecewa kalau kau menolaknya. Bagaimana? Kau bersedia?”
Arash terdiam. Pilihan sulit.
“Saya bersedia, Pak. Insya Allah.”
**
Arash mengucek-ucek matanya. Di luar hujan. Pantas udara menjadi sangat dingin. Tapi siapa itu yang berani mengetuk-ngetuk pintu ruanganku begitu keras? Kurang ajar, tidak sopan. Desisnnya marah.
“Pak Arash! Pak Arash!”
“Hei siapa itu di luar? Masuk!”
Dilon, Marketing Manager perusahaannya, masuk. Ia tampak ketakutan, tubuhnya gemetar.
“Ada apa, Di?” Sahut Arash tenang.
“Bbb.. Bbbe.. Gggini Pak Arash, saya tadi baru pulag dari bank. Saya berniat mengecek rekening perusahaan kita, untuk laporan pertanggungjawaban tiap bulan. Tapi Pak, saya kaget. Ternyata banyak laporan debitur asing yang masuk tiap bulan. Saya tidak tahu darimana, Pak. Tapi setelah raya cek, laporan itu diatasnamakan kepada Indra Pramunjaya..”
Arash kaget. Ia tercengang. Sahabatnya sendiri, Indra, menghianatinya? Sejenak Arash tak percaya. Ia limbung.
“Ambilkan aku air, Di.. Kita harus mengadakan rapat Direksi, secepatnya...”
Dilon, yang tak tega melihat pimpinannya lemas, langsung menjalankan perintah.
**
Wanita tua itu masih lemas, matanya sayu. Ia tak mampu bangkit barang sebentar saja. Bibirnya berkali-kali mengucap kalimat dzikir. Harapnya, hal itu dapat mengurangi rasa sakit yang menyiksa batin dan jiwanya...
“Allah, dimana anakku? Aku rindu Arash-ku, Ya Allah... Jika Engkau mengizinkanku untuk bertemu dengannya, maka aku akan senang. Namun jika Engkau tidak mengizinkanku untuk melihat lagi wajahnya, Allah, aku ingin ia tahu bahwa aku menyayangi dan mencintainya...”
Di luar hujan. Rintik-rintik gerimis turun membasahi kaca rumah kayu yang buram itu. Makin lama makin deras. Mungkin, tidak lebih deras dari air mata si wanita tua...
**
“Ini pilihan sulit bagi perusahaan kita. Saya sebagai Pimpinan Perusahaan, memutuskan untuk mengalihkan jabatan saya ke Wakil Direksi untuk sementara. Saya akan mengambil cuti selama beberapa bulan ke depan, sampai saya bisa menemukan penyelesaian dan jalan keluar dari masalah ini. Saya, Arash Abdurrahman, meminta maaf atas segala tindakan dan perbuatan saya selama ini.
Saya berharap, dengan lepasnya saya untuk sementara waktu, akan membuat keadaan perusahaan menjadi lebih baik. Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini. Rapat ini saya tutup, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...”
Hadirin menjawab dengan lirih. Sebagian terdiam.
Arash berjalan dengan hati tak menentu. Aku pulang, Ibu.
**
Laki-laki muda itu masih berdiri mematung. Umurnya mungkin baru 30 tahun. Gurat-gurat kedewaasaan mengalir di sepanjang wajahnya. Setelan bajunya rapi, mungkin ia orang kota? Laki-laki itu lalu berjalan, tapi langkahnya seperti diseret ribuan beton...
“Kau mencari siapa, Nak?”
“Pak Hanif? Ini benar Pak Hanif?”
Lelaki tua itu kaget. Tak menyangka, si anak muda berpakaian perlente ini mengenalinya. “Siapa kau?”
“Saya Arash, Pak... Pak Hanif dulu guru saya sewaktu SMP... Masih ingat dengan Arash Abdurrahman kan, Pak? Yang pernah memecahkan gelas di meja guru gara-gara bermain bola?”
“Allahu Akbar! Kau telah tumbuh dewasa, Nak! Apa yang membawamu kemari?”
“Ceritanya panjang, Pak.” Mendadak wajah gembira Arash berubah sendu. “Ibu mana?”
Lelaki tua yang wajahnya semula gembira, kini mendadak seperti tersaput awan kelabu. “Bu Maimunah, maksudmu?”
“Iya, Pak. Bu Maimunah, Ibu saya! Ibu ada di rumah? Saya rindu, saya ingin meminta maafnya, Pak. Saya ingin memeluk dan menciumi kakinya...”
“Ibumu ada Nak, tapi Ibumu telah tenang di sisi Allah SWT... Mari, ikut aku ke makamnya,” ajak Pak Hanif.
Arash menangis. Menangis, karena menyesali semua perbuatannya. Menangis, krena tak sempat meminta maaf pada Ibunya. Menangis, karena ia begitu merindukan sosok Ibu yang dicintainya...
“Maafkan aku, Ibu,” bisik Arash, pilu.
Mendung di awan masih kelabu.
Bangil, 2008.
Comments
Post a Comment