Seolah langit tiba-tiba buncah. Seperti perasaanku yang tumpah padamu. Seakan mendung menggayut menutup senja. Seperti perih yang tiba-tiba kurasakan.
Lalu langit seakan paham. Betapa kelamnya kututupi rapat perasaanku. Hatiku, yang sudah kukatupkan rapat. Hatiku, yang mungkin hanya jadi milikmu. Ya, mungkin. Sebab apa aku tahu, mana pula kamu sanggup bertahan denganku.
Ketika hujan buncah di pelataran. Lalu menggenang, dan sedikit harumnya menyeruak. Kukatakan padamu, bahwa ini lagu cintaku. Sebongkah perasaan yang memerah saga. Menghancurkanku, namun terlampau hebat membuatku melayang. Lalu tinggi, terbang. Dan menembus batas awang-awang.
Hujan mulai menitik. Sama seperti buliran di pipiku. Tumpah ruah. Namun apa dayaku? Memilikimu, tiada sanggup. Menjagamu, tiada mampu. Memimpikanmu.
Ya, hanya di mimpiku.
Berbayang-bayang, itu bentukmu dalam roman tidurku. Gelap, tapi tak hitam. Putih, tapi tak bercahaya. Kelabu hanya sebagian. Jadi apa? Sayangnya, aku tak pernah tahu.
Begitu hujan menderas, begitu aku terdiam. Memandangi hujan, seperti aku memandangimu. Sedikit titiknya tak mampu mendinginkan laraku. Laraku yang harus terkubur dengan segala keindahan bersamamu. Laraku, ya, hanya laraku.
Saat mendung membungkus langit.
Saat petir bersahutan mengumandangkan perih.
Saat titik-titik hujan terburu-buru menghunjam tanah.
Saat langit tahu perasaanku.
Aku disini,
Berdiri di labirin hatiku.
Aku menunggumu.
Comments
Post a Comment