Skip to main content

Saat Langit Memahami


Seolah langit tiba-tiba buncah. Seperti perasaanku yang tumpah padamu. Seakan mendung menggayut menutup senja. Seperti perih yang tiba-tiba kurasakan.

Lalu langit seakan paham. Betapa kelamnya kututupi rapat perasaanku. Hatiku, yang sudah kukatupkan rapat. Hatiku, yang mungkin hanya jadi milikmu. Ya, mungkin. Sebab apa aku tahu, mana pula kamu sanggup bertahan denganku.

Ketika hujan buncah di pelataran. Lalu menggenang, dan sedikit harumnya menyeruak. Kukatakan padamu, bahwa ini lagu cintaku. Sebongkah perasaan yang memerah saga. Menghancurkanku, namun terlampau hebat membuatku melayang. Lalu tinggi, terbang. Dan menembus batas awang-awang.

Hujan mulai menitik. Sama seperti buliran di pipiku. Tumpah ruah. Namun apa dayaku? Memilikimu, tiada sanggup. Menjagamu, tiada mampu. Memimpikanmu.
Ya, hanya di mimpiku.

Berbayang-bayang, itu bentukmu dalam roman tidurku. Gelap, tapi tak hitam. Putih, tapi tak bercahaya. Kelabu hanya sebagian. Jadi apa? Sayangnya, aku tak pernah tahu.

Begitu hujan menderas, begitu aku terdiam. Memandangi hujan, seperti aku memandangimu. Sedikit titiknya tak mampu mendinginkan laraku. Laraku yang harus terkubur dengan segala keindahan bersamamu. Laraku, ya, hanya laraku.

Saat mendung membungkus langit.
Saat petir bersahutan mengumandangkan perih.
Saat titik-titik hujan terburu-buru menghunjam tanah.
Saat langit tahu perasaanku.

Aku disini,
Berdiri di labirin hatiku.

Aku menunggumu.

Comments

Popular posts from this blog

Bumi Surabaya: Resort Hijau di Tengah Terik Kota

Saya kira, setelah menikah dan punya satu bocah kecil yang lucu, saya akan susah untuk kembali ke kebiasaan dahulu. Mungkin, dahulu saya kuat banget kali ya naik gunung, mendaki, bawa ransel. Tetapi seiring usia bertambah, kekuatan yang tak lagi sama apalagi stamina juga berbeda, liburannya dialihkan ke bentuk lain yang beda. Terutama semenjak pandemi, pilihan berwisata juga semakin sempit. Beberapa sektor ekonomi terpuruk dan jatuh, terutama sektor wisata dan transportasi. Tahun 2020 akhir, salah satu platform agen perjalanan berlogo burung biru mengadakan diskon hotel besar-besaran. Tentu saya ikutan, walaupun besaran diskonnya tak begitu besar banget seperti teman-teman lain yang ikut berburu, saya cukup puas. Jadilah, staycation pertama saya bersama suami dan bocah. Tujuannya: BUMI SURABAYA CITY HOTEL. Mimpi menginap di hotel bintang 5 saja nggak pernah, nah ini pertama kali nginap disana tentu saja kagok. Apalagi kamarnya ada bathubnya, kayak di film-film orang kaya :D Suasana dek...

Titik.

Titik. Inilah akhir dari kita. Ujung dari segalanya. Muara dari segala keluh kesah. Titik. Yakinlah, ini semua sudah berhenti. Sudah selesai, tak ada lagi. Apa lagi yang harus ada? Atau diada-adakan? Titik. Ini sudah terlanjur basah. Mau bagaimana? Semua kini usang. Pemberhentian. Ya, lanjut, tak berjalan. Titik. Tak ada lagi, antara kamu dan aku. Tak ada lagi kita. Tak ada lagi cerita. Duka? Bahagia? Tak ada... Apalagi yang harus kita perbuat selain 'titik'? Selain berhenti pada ujung segalanya. Bukan ujung bahagia memang, tapi ini sudah jalannya. Jalan terbaik untuk kita. Ah, titik.

J&T Express, Pemain Baru yang Gak Main-main

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima cukup uang untuk membeli handphone sebagai ganti Sony Xperia L saya yang sudah cukup uzur. Berbagai masalah saya alami mulai dari case yang sudah pecah, lemot, dan yang paling menyebalkan adalah sering bootloop sendiri tanpa alasan ketika dihidupkan. Pernah 2 hari saya hidup tanpa handphone, rasanya aneh mengingat saya sangat aktif menggunakannya. Akhirnya, saya memutuskan membeli Xiaomi Redmi Note 3 Pro sebagai gantinya. Karena di Surabaya ada beberapa mall yang khusus IT dan hp, jadilah saya blusukan. Awal blusukan cuma untuk survey harga. Ketika sudah mantap untuk membeli, saya kembali lagi. Lha kok, harganya jadi naik sekitar 500ribu rupiah dari harga standarnya. Sempat bingung mau beli yang memang naik, atau pesan saja dari rekan pacar saya yang ada di Trenggalek. Kebetulan, harganya masih cukup masuk akal dan tidak dipatok tarif super tinggi kayak yang di Surabaya. Jadilah saya memesan. Selayaknya orang yang beli online, otomatis harus m...