Dear kamu yang berada di sana,
Bagaimana kabarmu sekarang?
Apakah sudah nyaman dengan semuanya? Dengan hidupmu? Atau dengan pasangan hidupmu? Ah, kuharap hidup selalu memberikanmu kenyamanan. Kuharap, kamu selalu gembira dalam menatap hari-hari ke depanmu. Kuharap, kamu selalu tersenyum. Tertawa, tak peduli beberapa kesuraman sedang mengancam senyummu.
Dear kamu yang di sana,
Masihkah ingat padaku?
Seseorang yang mengucap janji begitu tulus dengan segenap hatiku. Seseorang yang begitu percaya akan pertautan jari kelingking kita. Seseorang yang kemudian bertumpah air mata di belakangmu, lalu bertegar sapa saat berhadapan denganmu. Lalu berjanji, akan selalu tersenyum, selalu tersenyum untukmu. Tak peduli, tak peduli kapanpun kamu menyakitiku. Tak peduli, seperti apa robeknya hati ini kalau kamu meninggalkanku.
Senja itu, ya, senja itu.
Ketika matahari semburat di ufuk barat. Ketika batas cakrawala sedang terlukis warna merah, kamu menatapku sendu. Kamu bilang, bahwa kamu menginginkanku. Tapi tak bisa, katamu. Aku terlalu naif untuk merasa adil mencintaimu. Aku terlalu banyak berharap lebih, berharap kepastian yang tak selalu pasti darimu. Ah, ujarku menghela nafas waktu itu. Aku diam dalam keterdiamanku. Bagaimana mungkin, aku mengabaikan dirimu? Seseorang yang menatapku begitu teduh, membuatku merasas awan seketika menyergap panas di atasku. Ah, sekali lagi aku mendesah. Lirih, ya, hanya lirih.
Aku berujar padamu,
Biarlah aku yang tersakiti dalam keberharapanku. Menunggumu selama itu. Tanpa kamu minta, bahkan aku akan selalu setia menungguku. Kamu tahu, bahwa aku tak pernah coba mengkhianati pertalian ini. Sedangkan kamu, ya, aku sudah tahu akan hari-hari kelam itu. Kamu mencoba untuk mencari seseorang yang baik selain aku. Tak apan, ujarku lagi. Biarlah kamu menemukan kebahagiaanmu, meskipun tidak denganku.
Perlahan air mataku menyusut. Perlahan aku menatapmu dalam diam, di antara senyum ketegaranku. Aku percaya padamu, suatu hari nanti, jika waktu telah tepat. Hanya kamu yang kurengkuh, di dalam peluk abadi ku. Sebagai seseorang yang telah sah membenamkan segala rengkuhku. Seseorang yang akan membimbingku. Seseorang itu, hanya kamu.
Di bawah mendung tipis yang menggayut. Di bawah rintik hujan yang mulai turun. Kamu berkata pelan-pelan padaku. Membisikkan setipis kata itu.
Ini saatnya, tuturmu.
Saat apa? Ah, sayangnya aku tak pernah tahu.
Comments
Post a Comment